Popular posts

Unknown On Jumat, 05 Juni 2015

ANGKAT BEBAN

Pada dasarnya, angkat besi merupakan olahraga beban yang tidak jauh berbeda dengan fitness. Beradu mengangkat beban hingga paling terberat melalui 2 gerakan yaitu snatch dan clean and jerk adalah kriteria persaingan yang ditemukan pada weightlifting. Kekuatan, emosional, dan teknik adalah tiga kunci utama yang selalu diprioritaskan pada weight lifting. Menjalani teknik terbaik selama latihan dan mengeksekusinya saat bertanding sudah seharusnya dilakukan bagi seorang atlet angkat besi. Atas dasar inilah tema pembahasan musclebuild kali ini,  akan mengulas mengenai teknik serta pola latihan terbaik untuk menghasilkan power saat melakukan weight lifting. Berikut ulasannya.

Apa itu weightlifting?

Weightlifting atau angkat besi adalah jenis olahraga beban yang dilakukan dengan cara mengangkat beban berupa barbell, dengan tujuan meningkatkan kekuatan ataupun ukuran otot. Weightlifting itu sendiri dikelompokan ke dalam beberapa bentuk penerapan, seperti diantaranya : untuk olahraga angkat besi itu sendiri, latihan kekuatan, dan binaraga.

4 Teknik melakukan weightlifting


Perhatikan struktur jongkok yang benar.

Barbell back squat adalah cara latihan tradisional yang mendasar bila Anda ingin melakukan squat. Untuk menghasilkan kekuatan penopang tubuh yang kuat, perhatikanlah pondasi kaki Anda, begitupula keseimbangan posisi pinggul saat menopang beban lalu menurunkan dan mendorongnya kembali ke atas. Agar terbiasa dengan pengangkatan beban terberat, lakukanlah latihan berikut ini.

·        Front squat

·        Power clean

·        Snatch

Struktur gerak engsel pinggul:

Pola gerakan ini sangatlah menguntungkan pada gerakan deadlifts  ataupun snatch lift khususnya dalam mengoptimalkan  rantai posterior Anda (pinggul, paha belakang, punggung ekstensor) . Setidaknya saat menopang beban, kekuatan tubuh tidak hanya tertumpu pada bagian kaki, bahu ataupun kekuatan tangan saja, melainkan kekuatan punggung belakang serta engsel pinggul pun turut menjadi faktor terpenting agar lifting terlaksana dengan aman. Berlatih dengan jenis laihan berikut ini, dapat membiasakan pinggul bergerak secara elastis dan kokoh.

·        Deadlift

·        Barbell row

Kekuatan bahu dan tangan.

Untuk mencapai gerakan finishing yang baik dan tepat, kekuatan otot bahu dan tangan merupakan parsial otot yang bertanggung jawab atas kesuksesan lifting berikutnya. Bila pondasi bahu dan tidak terlatih secara kokoh, maka akan menimbulkan resiko cedera sangat fatal. Seperti yang dialami kontingen asal Hungaria “Janos Baranyai” pada olimpiade Beijing 2008 lalu, dimana saat itu ia menderita siku terkilir saat melakukan snatch. Agar terhindar resiko tersebut, lakukanlah teknik latihan berikut ini dimulai dengan beban yang ringan hingga beban terberat :

·        Overhead press

·        Jerk

Memperkokoh tulang belakang

Kebanyakan orang tahu bahwa sit-up merupakan gerakan latihan yang sangat menguras tenaga, sehingga sesekali menyebabkan rasa stress pada tulang punggung Anda. Peranan tulang punggung belakang itu sendiri memanglah diperlukan di setiap latihan beban, fungsinya untuk menjaga tubuh agar tidak membungkuk ataupun tidak terkilir disaat memainkan beban berat, disamping itu membantu postur tubuh agar berdiri lebih tegap. Berikut tips latihan agar tulang punggung Anda terkunci aman serta meminimalisirkan terjadinya cedera saat Anda menghajar beban berat.

·        Front plank

Resiko cedera dan penanggulangannya

Calikin selaku pelatih dan mantan atlet angkat besi yang pernah mewakili kota DKI Jakarta ini mengatakan bahwa “Penyebab cedera pada angkat besi umunya disebabkan atas 3 faktor : faktor teknik yang salah, over training dan faktor tak diduga. Untuk menanggulanginya, kita mesti tahu daya tahan si atlet ini apakah masih mampu mengangkat ataupun tidak, selain itu memperhatikan secara detail mengenai teknik pengangkatan yang benar adalah kewajiban yang harus diteliti bagi seorang pelatih maupun atlet itu sendiri. Melakukan simulasi pertandingan sebulan 3 kali, rupanya sangat efektif untuk membentuk mentalitas atlet agar lebih percaya diri saat bertanding” tutupnya saat ditemui Reps mengjelang pertandingan.



BERENANG
Macam - Macam Gaya Renang dan Pengertiannya - Renang merupakan sebuah olahraga melombakan kecepatan atlet dalam berenang. Dalam perlombaan ini banyak kategori dan gaya renang yang diperlombakan, ada gaya dada, gaya bebas, gaya punggung dan gaya kupu - kupu.

Pemenang dalam lomba ini adalah atlet yang mampu menuntaskan jarak lintasan dengan waktu yang paling cepat. Organisasi yang menaungi Renang tingkat Internasional adalah FINA (Federation Internationale de Natation). Sedangkan yang tingkat Nasional adalah PRSI (Persatuan Renang Seluruh Indonesia).


Gaya Renang Bebas merupakan gaya renang yang paling umum dan banyak orang yang menguasai gaya ini. Untuk Anda yang ingin mengetahui gaya renang dan penjelasannya berikut ini Bacaan Sekolah akan bagikan.


Macam-macam gaya renang dan penjelasannya :



1. Renang Gaya Dada
Renang Gaya Dada, gaya ini merupakan gaya berenang yang paling banyak dilakukan saat rekreasi. Pada gaya ini posisi tubuh secara stabil serta kepala dapat berada di luar air dengan waktu yang cukup lama. Gaya dada ini biasanya juga disebut deangan gaya katak, Pengertian Gaya Dada adalah cara berenang dengan posisi dada menghadap ke permukaan air, tetapi gaya ini berbeda dengan gaya bebas, pada gaya ini batang tubuh selalu dalam keadaan tetap.

Sedangkan kedua belah kaki menendang ke arah luar dan kedua belah tangan diluruskan di depan. Kedua belah tangan dibuka ke samping seperti gerakan membelah air, maksut dari gerakan ini adalah agar badan maju lebih cepat ke depan. Gerakan tubuh meniru gerakan katak sedang berenang sehingga disebut gaya katak. Pernapasan dilakukan ketika mulut berada di permukaan air, setelah satu kali gerakan tangan-kaki atau dua kali gerakan tangan-kaki. Gaya ini merupakan Gaya renang yang paling lambat daripada Gaya renang lainnya.

2. Renang Gaya Punggung

Saat melakukan renang gaya punggung, atlet atau perenang berenang dengan posisi punggung menghadap ke permukaan air. Sedangkan, untuk posisi wajah berada di atas air oleh karena itu perenang dapat dengan mudah mengambil napas. Tetapi, pada gaya ini perenang hanya dapat melihat atas dan tidak dapat melihat ke depan. Saat dalam perlombaan, perenang memperkirakan dinding tepi kolam renang dengan cara menghitung jumlah gerakan yang dilakukan. Dalam renang gaya punggung, gerakan kaki dan lengan sama dengan gaya bebas, tetapi dengan posisi tubuh telentang di permukaan air.

3. Renang Gaya Kupu-kupu

Renang Gaya kupu-kupu juga disebut dengan gaya lumba-lumba, Renang Gaya Kupu-kupu merupakan salah satu gaya berenang dimana posisi dada menghadap ke permukaan air. Kemudian kedua belah lengan ditekan ke bawah secara bersamaan dan digerakkan ke arah luar sebelum diayunkan ke depan. Sedangkan untuk kedua belah kaki menendang ke bawah secara bersamaan dan ke atas seperti gerakan sirip ekor ikan atau lumba-lumba. Untuk mengambil nafas hal yang dilakukan adlaah udara dihembuskan dengan kuat-kuat dari mulut dan hidung sebelum kepala muncul dari air, dan udara dihirup lewat mulut ketika kepala berada di luar air.

4. Renang Gaya bebas

Renang Gaya bebas merupakan cara berenang dengan posisi dada menghadap kedalam permukaan air. Sedangkan kedua belah tangan secara bergantian digerakkan jauh ke depan dengan gerakan mengayuh dengan kuat agar memperoleh kecepatan penuh, sementara kedua belah kaki secara bergantian dicambukkan naik turun ke atas dan ke bawah.

Saat berenang gaya bebas, posisi wajah menghadap ke permukaan air. Untuk mengambil nafas dilakukan saat lengan digerakkan ke luar dari air, saat tubuh menjadi miring dan kepala berpaling ke samping. Anda dapat mengambil napas saat menoleh ke kanan atau kiri. Gaya Bebas ini merupakan gaya renang yang paling cepat membuat tubuh melaju saat di kolam renang.




Lempar Cakram
Lempar cakram adalah salah satu cabang atletik pada nomor lempar. Sejak tahun 708 SM, lempar cakram merupakan bagian dari pancalomba (pentathlon). Pada permulaanya, cakram terbuat dari batu terupam halus, kemudian dari perunggu yang dicor dan ditempa. Cara melakukan lemparan yang pada mulanya menirukan gaya nelayan yang melempar jaring berulang-ulang. Kemudian, ditemukan lemparan dengan sikap badan menyiku secara khusus dengan badan agak bersandar ke depan.
1.Alat dan sektor ( Lapangan Lempar Cakram )
·        Alat
Cakram terbuat dari kayu yang dibingkai oleh logam sebagai penguat sisi cakram.
·        Ukuran Cakram
Putra : 2 Kg : 219 - 221 mm (Diameter garis tengah)
Putri : 1 Kg : 180 - 182 mm (Diameter garis tengah)
·        Sektor (Lapangan)
1.     Lapangan untuk melempar berdiameter 2, 50 meter, dalam perlombaan yang resmi terbuat dari metal atau baja.
2.     Permukaan lantai tempat melempar harus datar dan tidak licin, terbuat dari semen, aspal dan lain-lain. Lingkaran lapangan dikelilingi oleh pagar kawat atau sangkar untuk menjamin keselamatan petugas ,peserta, dan penonton.
3.     Bentuk lapangan seperti huruf C, dengan diameter 7 meter, mulut 3,3 meter. Sektor lapangan dibatasi oleh garis yang berbentuk sudut 40˚ di pusat lingkaran.

2.Cara memegang cakramBeberapa cara memegang cakram antara lain sebagai berikut :
1.     Bagi yang tanganya lebar, caranya dengan meletakkan tepi cakram pada lekuk pertama jari-jarinya.
2.     Cara memegang cakram untuk orang yang memliki tangan lebar adalah jari telunjuk dan jari tengah berhimpit, jari-jari lainya agak renggang.
3.     Cara memegang yang jari-jarinya pendek sama dengan cara yang pertama, hanya letak tepi cakram agak lebih ke ujung jari-jari.

3.Teknik Lempar Cakram Menyamping Tanpa Awalan
Cara melakukan lempar cakram menyamping tanpa awalan sebagai berkut :
1.     Ambil posisi dan berdiri menyamping arah lemparan. Kaki dibuka selebar bahu, sedikit ditekuk dan rilek. Berat badan terbagi pada kaki.
2.     Pusatkan perhatian dan persiapan untuk melakukan lemparan kemudian cakram diayun-ayunkan ke samping kanan belakang lalu ke kiri. Gerakan ini di ulang-ulang sebanyak dua tiga kali.



4.Lempar Cakram Dengan Awalan
Awalan dalam lempar cakram dilakukan dalam bentuk gerakan berputar. Banyaknya perputaran tersebut dibedakan menjadi 1¼, 1½, dan 1¾ putaran. Awalan ini harus dlakukan dengan baik, sehingga dapat menghasilkan lemparan yang maksimal.
Cara melakukan awalan lempar cakram adalah sebagai berikut :
a.Mengambil posisi yang baik, berdiri menyamping arah lemparan. Kaki di renggangkan selebar badan, sedikit ditekuk dan kendor. Berat badan bertumpu pada kedua kaki.
b.Pusatkan perhatian untuk melakukan awalan agar mantap, kemudian cakram diayun-ayunkan ke samping kanan belakang lalu ke kiri. Gerakan ini di ulang-ulang 2 – 3 kali dilanjutkan dengan awalan berputar.

Cara melakukanya adalah sebagai berkut :
1.     Lengan yang memegang cakram diayunkan ke samping kanan belakang diikuti oleh gerakan memilin badan kekanan, lengan kiri juga mengikuti gerakan ke kanan, sedikit ditekuk ke muka dada, kaki kanan sedikit ditekuk dan berat badan sebagian besar berada pada kaki kanan, kaki kiri mengikuti gerakan dengan tumit agak diangkat.
2.     Kemudian, cakram diayunkan ke samping kiri diikuti oleh badan ke kiri juga, berat badan dipindahkan ke kaki kiri, kaki kanan kendor dan tumit sedikit diangkat.
3.     Selanjutnya, gerakan ayunan cakram ke samping kanan belakang diulangi lagi seperti latihan di atas.

5.Ayunan Lengan Saat Melempar
Dengan tanpa berhenti sedikitpun dari posisi siap lempar ini dilanjutkan dengan gerakan melempar cakram.

Cara melakukanya sebagai berikut :
1.     Kaki kanan ditolakkan untuk mengangkat panggul dari posisi rendah di atas kaki kanan didorong ke depan atas, selanjutnya badan yang semula condong ke belakang dan terpilin ke kakan diputar ke kiri diikuti dengan gerakan panggul yang memutar ke kiri pula.
2.     Berat badan dipindahkan dari kaki kanan ke kaki kiri. Setelah badan menghadap lemparan penuh (siap lempar) dengan waktu yang tepat cakram di lemparkan ke arah depan atas.
3.     Lepaskan cakram setinggi dagu dengan sudut lemparan kira-kira 90˚. Cakram terlepas dari pegangan dengan berputar menurut putaran jarum jam, putaran cakram terjadi karena tekanan dari jari telunjuk. Cakram terlepas pada saat cakram berada sedikit dimuka bahu.
4.     Catatan : Cakram yang terlepas sebelum melewati bahu akan mejad lemparan yang gagal, kecuali lemparanya tidak akan jauh, juga tidak masuk daerah lemparan. Sebaliknya, kalau lepasnya agak terlambat, sudah sampai dimuka badan, hasil lemparanya tidak akan memuaskan dan akan keluar daerang lapangan.




6.Gerakan Akhir Setelah Melempar (Lepas Cakram)

Setelah cakram terlepas, kaki kanan harus segera dipindahkan ke muka dengan sedikit ditekuk untuk menahan agar badan yang condong ke muka tidak terlanjur terdorong keluar lingkaran. Kaki kiri dipindahkan ke belakang dan pandangan mata mengikuti jatuhnya cakram.
Pemindahan kaki kanan dari belakang ke muka ini karena dilakukan dengan tolakan yang kuat dan pengerahan tenaga yang maksimal disertai dengan bantuan kaki kiri juga yang menolak, terjadi saat melayang sehingga merupakan suatu lompatan. Setelah lemparan dilakukan dan dinyatakan bahwa jatuhnya cakram sah, dari sikap berdiri pelempar keluar dari lingkungan melalui belahan bagian belakang, tidak dengan lari atau melompa

7. Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Lempar Cakram
·        Hal-hal yang harus dihindari dalam lempar caram
1.     Jatuh ke belakang pada awalan putaran
2.     Berputar di tempat (seperti gangsing)
3.     Membungkukkan badan ke depan (dipatahkan pada pinggang)
4.     Melompat tinggi di udara
5.     Terlalu tegang di kaki
6.     Mebawa berat badan pada kaki depan dan membiarkan jatuh

·        Hal-hal yang harus diutamakan dalam lempar cakran
1.     Berputar dengan baik
2.     Mendorong cakram melewati lingkaran
3.     Mendapatkan putaran yang besar antara badan bagian atas dan bawah
4.     Mencapai jarak yang cukup pada saat melayang melintasi lingkaran
5.     Mendarat dengan kaki kanan di titik pusatkan dan kaki kiri ke kiri dari garis lemparan



LEMPAR LEMBING
Pengertian Lempar lembing merupakan salah satu cabang olahraga atletik nomor lempar. Lembing adalah alat yang digunakan dalam olahraga ini. Alat ini berbentuk seperti tombak dengan sudut tajam di salah satu ujungnya. Pada dasarnya lempar lembing berarti melempar lembing dari tangan dengan sekuat tenaga untuk memperoleh jarak lemparan sejauh mungkin.


1.  Teknik Dasar Lempar Lembing
Dalam lempar lembing terdapat beberapa teknik dasar yang harus diketahui. Teknik dasar tersebut meliputi cara memegang, membawa, dan melempar lembing.

a.  Memegang Lembing
Cara memegang lembing yang biasa dilakukan para pelempar, yaitu cara Amerika dan cara Finlandia.

1)  Cara Amerika
Pegang lembing di bagian belakang lilitan lembing dengan jari telunjuk melingkar di belakang lilitan dan ibu jari menekannya di bagian permukaan yang lain. Sementara itu, jari-jari lain turut melingkar di badan lembing dengan longgar.

2)  Cara Finlandia
Pegang lembing pada bagian belakang lilitan dengan jari tengah dan ibu jari, sementara telunjuk berada sepanjang batang lembing dan agak serong ke arah yang wajar. Jari-jari lainnya turut melingkar di badan lembing dengan longgar.

Gambar: Cara memegang lembing: a) cara Amerika dan b) cara Finlandia

b.  Membawa Lembing
Ada tiga cara membawa lembing yang biasa digunakan pelempar saat melakukan awalan, di antaranya sebagai berikut.
Lembing dibawa di atas bahu dengan mata lembing menghadap serong  ke atas.
Lembing dibawa di belakang badan sepanjang alur lengan dengan mata lembing menghadap ke arah depan serong ke atas.
Lembing dibawa di atas bahu dengan mata lembing menghadap serong ke arah bawah.

Gambar: Cara membawa lembing

c.  Melempar Lembing
Melempar lembing terbagi menjadi beberapa tahap yaitu awalan, lemparan, dan akhiran.

1)  Awalan
Awalan berlari sambil membawa lembing di atas kepala dengan lengan ditekuk, sikut menghadap ke depan dan telapak tangan menghadap atas. Posisi  lembing berada  sejajar di  atas garis paralel dengan  tanah. Bagian terakhir awalan terdiri atas langkah silang (cross step). Pada bagian akhir dapat dilakukan langkah dengan beberapa cara berikut.
Dengan jingkat (hop step)
Dengan langkah silang di depan (cross step)
Dengan langkah silang di belakang (rear cross step)


Proses peralihan (cross step) dilakukan saat kaki diturunkan. Kedua bahu diputar perlahan ke arah kanan (bukan kidal), lengan kanan mulai bergerak dan diluruskan ke arah belakang dengan tubuh bagian atas condong ke belakang. Pandangan selalu melihat lurus ke depan

2)  Lemparan
Pada  gerak melemparkan  lembing,  tarik  bahu  kanan dan lengan melakukan gerakan melempar melalui poros bahu dengan kuat ke depan-atas. Badan bergerak melewati kaki depan, lalu melepaskan lembing.

3)  Akhiran
Gerak akhir lemparan dilakukan dengan melangkahkan kaki ke depan untuk menyeimbangkan gerak agar tidak terjatuh dan tidak melebihi garis batas lemparan.

Gambar: Rangkaian gerak lempar lembing

2.   Bentuk Latihan Lempar Lembing
Berikut ini adalah bentuk-bentuk latihan yang dapat digunakan  untuk melatih lempar lembing. Mintalah pengawasan dari guru Anda saat berlatih.

a.  Melempar dari berdiri menghadap ke depan
Pelempar berdiri menghadap ke depan dengan kaki  terpisah  selebar bahu.
Lembing ditarik dan dipegang di atas kepala, menunjuk ke tanah dengan sudut runcing.
Lembing dilemparkan untuk menancap di tanah 3–4 meter ke depan.



b.  Melempar berdiri menghadap ke samping
Pelempar berdiri dengan kaki 60–90 cm terpisah dengan kaki menunjuk lurus ke depan.
Berat badan ada di belakang, pada kaki kanan.
Kepala menghadap ke depan, sedangkan pinggang dan bahu menghadap ke samping.
Lembing ditarik di mana mata lembing dekat dengan mata pelempar sebelah kanan.
Telapak tangan kanan menghadap ke atas dan di atas garis bahu.
Memulai gerakan dengan mengangkat sedikit kaki dari tanah, dan berat badan ada pada kaki kanan yang dibengkokkan sedikit.
Dorong kaki kanan dengan kuat, berporos pada telapak kaki dan meletakkan kaki kiri di tanah dengan tumit lebih dulu.
Pinggang akan memutar ke depan membentuk punggung melengkung, dengan bahu, lengan, dan tangan mengikuti.
Selama melakukan seluruh gerakan melempar, siku harus dipertahankan selalu dekat dengan lembing.


3.   Peraturan Perlombaan Lempar Lembing
Berikut ini beberapa peraturan yang diberlakukan dalam perlombaan lempar lembing.

a.   Lembing
Lembing terbuat dari bambu dengan bagian ujung runcing yang terbuat dari logam. Lembing terdiri atas tiga bagian, yaitu mata lembing, badan lembing, dan pegangan lembing. Ukuran lembing yang digunakan untuk putra memiliki panjang 2,6–2,7 meter dan beratnya 800 gram. Sementara itu, lembing yang digunakan oleh putri memiliki panjang 2,2–2,3 meter dan beratnya 600 gram.

b.   Lapangan Lempar Lembing

Gambar: Lapangan lempar lembing

Berikut ini penjelasan tentang lapangan lempar lembing.
Lintasan awal dibatasi oleh garis 5 cm dan terpisah 4 meter. Panjang lintasan minimal 30 m dan maksimal 36,5m.
Lengkung lemparan dibuat dari kayu atau logam dan dicat putih selebar 7 cm. Lengkungan ini datar dengan tanah dan merupakan busur dari lingkaran yang berjari-jari 8 meter. Garis 1,5 meter terletak melilit titik pusat gravitasi lembing.
Sudut lemparan dibentuk dari dua garis yang dibuat dari titik pusat lengkung-lemparan dengan sudut 29 derajat memotong kedua ujung  lengkung  lemparan, dengan tebal garis sektor 5 cm.


c.    Aturan Melempar
Setiap atlet berhak melempar sebanyak 3 kali. Lemparan dilakukan dengan menggunakan satu tangan. Atlet akan didiskualifikasi karena hal-hal berikut.
Lembing tidak dipegang pada pembalutnya.
Setelah dipanggil 2 menit belum melempar.
Menyentuh besi batas lemparan sebelah atas.
Setelah melempar keluar lewat garis sektor lempar.
Lembing jatuh di luar garis sektor lempar.Ujung lembing tidak membekas pada tanah.






GULAT

Sejarah gulat
Pada tahun 2500 SM cabang olahraga Gulat telah menjadi suatu mata pelajaran di suatu sekolah di Negara Cina dan sekitar tahun 2050 SM gulat juga dipelajari oleh orang-orang Mesir. Sejak Olympiade Kuno, gulat telah menjadi suatu acara pertandingan, walaupun acara tersebut diadakan di dalam acara Pentahlon.
Pada Olympiade I tahun 1896 di Athena gulat Gaya Yunani-Romawi menjadi suatu acara pertandingan tersendiri. Pada Olympiade III tahun 1904 di St Louis Amerika Serikat, acara pertandingan gulat hanya untuk gaya catehras catch can saja. Sedangkan pada Olympiade IV tahun 1908 di Inggris mengadakan pertandingan gulat untuk dua gaya yaitu Yunani-Romawi dan catehras catch can. Peraturan gulat Internasional baru diadakan pada Olympiade XI tahun 1936 di Berlin Jerman.

Sejak sebelum Perang Dunia II, Indonesia sudah mengenal sudah mengenal gulat Internasional , gulat ini dibawa oleh tentara Belanda. Tahun 1941 – 1945 sewaktu Indonesia diduduki tentara Jepang, seni beladiri Jepang seperti Judo, Sumo dan kempo masuk pula ke Indonesia, sehingga gulat secara berangsur-angsur  menjadi hilang. Pada tanggal 7 Pebruari 1960 didirikan sebuah organisasi gulat amatir Indonesia dengan nama Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI). Pertama kali gulat dipertandingkan di PON V tahun 1961 di Bandung. Tahun 1962 pada Asian Games IV di Jakarta, Indonesia menurunkan pegulat-pegulatnya secara full team , mulai dari kelas 52 kg sampai dengan 97 kg, namun prestasi para pegulat kita belum menggembirakan, Indonesia hanya meraih 2 medali perunggu melalui gulat Mujari (kelas 52 kg) dan Rachman Firdaus (kelas 63 kg) yang keduanya bertanding dalam gaya Yunani-Romawi. Dan sejak pembentukannya  tahun 1960, PGSI telah banyak melakukan kegiatan baik local, nasional maupun Internasional.

PERATURAN PERTANDINGAN  :
Sesuai dengan umur, olahraga gulat dibagi dalam kelompok sebagai berikut  :
1.       Gulat Mini                       :                6 – 12 tahun
2.       Gulat anak-anak               :              13 – 16 tahun
3.       Gulat Yunior                     :              17 – 20 tahun
4.       Gulat Senior                    :           di atas 20 tahun
Pertandingan olahraga gulat dilakukan di atas matras berukuran 12 x 12 meter sesuai dengan peraturan gulat Internasional dari Fila yang sudah disyahkan oleh PB. PGSI. Selama bertanding pegulat harus memakai baju gulat Internasional (wrestlingsuit) sesuai dengan warna dari sudut mana dia berada, biru atau merah. Wasit berada di atara kedua pegulat di lingkaran tengah, pada waktu pegulat tinggal diam beberapa saat maka wasit berteriak “open” agar daerah serangan dibuka untuk memberi kesempatan pada lawan melakukan serangan.  Untuk perintah melakukan serangan wasit berteriak “action” dan “contact” jika pegulat tidak melaksanakan perintah wasit, maka wasit akan menghentikan pertandingan dan memberikan peringatan.
Setelah Olympic Games tahun 1964 di Tokyo, Jepang, waktu pertandingan menjadi 3 x 3 menit jatuhan, sebelumnya pertandingan berlangsung selama 12 menit. Pegulat dinyatakan kalah jatuhan bila pundaknya mengenai lantai dalam hitungan 10 (sepuluh).
Olahraga gulat mempertandingkan 2 macam gaya yaitu gaya bebas dan gaya Yunani-Romawi dan masing-masing meliputi kelas-kelas  :
1.       kelas 48 kg                                  6.   kelas 74 kg
2.       kelas 52 kg                                  7.   kelas 82 kg
3.       kelas 57 kg                                  8.   kelas 90 kg
4.       kelas 62 kg                                  9.   kelas 100 kg
5.       kelas 68 kg                                  10. kelas 100 kg + (over + 100 kg)
Susunan organisasi PGSI berbentuk piramida dan vertical, berjenjang mulai dari perkumpulan-perkumpulan, pengurus Kabupaten/Kotamadya, kota (Administratif), Propinsi sampai tingkat Pusat. Masa kepengurusan besar paling lama 4 tahun dan pengurus cabang 2 tahun.


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments