Unknown
On Jumat, 05 Juni 2015
PATHOL
Pathol adalah olahraga gulat tradisional. Olahraga ini populer di
wilayah pantai utara mulai dari Rembang hingga Tuban. Seperti halnya gulat
lain, pathol mempertandingkan dua orang di tengah arena. Arena pathol biasanya
berupa pasir karena itu sering dimainkan di pantai. Kedua atlet pathol hanya mengenakan celana pendek
dengan selendang/tali terikat dipinggang. Pegulat yang menang adalah yang
berhasil menelentangkan lawan hingga punggungnya menempel di pasir/arena.
Pathol memiliki
makna “Jago yang tak terkalahkan“ dan Sarang adalah tempat dimana olahraga ini
lahir. Pathol merupakan olahraga gulat tradisional yang berasal dari Kecamatan
Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Olahraga ini sangat terkenal di wilayah
pantai utara dari Serang, Rembang, dan Tuban. Olahraga ini sering di
selenggarakan pada saat event-event yang penting seperti sedekah laut.
Layaknya
seperti gulat pada umumnya, olahraga ini mempertandingkan dua orang di tengah
arena. Arena dari olahraga ini biasanya berupa pasir karena itu sering
dimainkan di pantai. Kedua atlet pathol hanya mengenakan celana pendek serta
menggunakan selendang/sabuk yang terikat dipinggang. Selendang/sabuk ini
berfungsi untuk menjatuhkan lawan. Saat pertandingan dimulai, setiap atlet
memegang selendang/sabuk yang terikat di pinggang masing-masing lawan. Pegulat
yang menang adalah yang berhasil menjatuhkan lawan hingga punggungnya menempel
di pasir/arena.
Gerakan-gerakan pathol kemudian dikembangkan oleh pemuda dan masyarakat setempat hingga akhirnya tumbuh menjadi olahraga yang digemari dan bahkan dijadikan kesenian tradisional. Semoga dengan kita lestarikan budaya khas tradisional sarang, olahraga ini bisa dikenal oleh seluruh bangsa Indonesia bahkan seluruh dunia. Olahraga tradisional ini mempunyai sejarah yang sangat penting di masa lalu yang harus dimengerti oleh generasi muda yang akan datang.
PACU JALUR
Pacu Jalur merupakan sebuah perlombaan mendayung
di sungai dengan menggunakan sebuah perahu panjang yang terbuat dari kayu
pohon. Panjang perahu ini bisa mencapai 25 hingga 40 meter dan lebar bagian
tengah kir-kira 1,3 m s/d 1,5 m, dalam bahasa penduduk setempat, kata Jalur berarti Perahu.
Setiap tahunnya, sekitar tanggal 23-26 Agustus, diadakan Festival Pacu Jalur
sebagai sebuah acara budaya masyarakat tradisional Kabupaten Kuantan Singingi,Riau bersamaan dengan perayaan Hari Kemerdekaan
Republik Indonesia.
Pacu jalur biasanya
dilakukan di Sungai Batang Kuantan. Hal ini tak lepas dari catatan panjang sejarah, Sungai
Batang Kuantan yang terletak antara Kecamatan Hulu
Kuantan di bagian hulu dan Kecamatan Cerenti di hilir, telah digunakan sebagai jalur
pelayaran jalur sejak awal abad ke-17. Dan, di sungai ini pulalah perlombaan
pacu jalur pertama kali dilakukan. Sedangkan, arena lomba pacu jalur bentuknya
mengikuti aliran Sungai Batang Kuantan, dengan panjang lintasan sekitar 1 km yang ditandai dengan
tiga tiang pancang.
Sejarah Pacu Jalur berawal abad ke-17, dimana jalur merupakan alat transportasi utama warga desa di Rantau Kuantan, yakni daerah di sepanjang Sungai Kuantan yang terletak antara Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu hingga Kecamatan Cerenti Kecamatan Cerenti di hilir. Saat itu memang belum berkembang transportasi darat. Akibatnya jalur itu benar-benar digunakan sebagai alat angkut penting bagi warga desa, terutama digunakan sebagai alat angkut hasil bumi, seperti pisang dan tebu, serta berfungsi untuk mengangkut sekitar 40 orang. Kemudian muncul jalur-jalur yang diberi ukiran indah, seperti ukiran kepala ular, buaya, atau harimau, baik di bagian lambung maupun selembayung-nya, ditambah lagi dengan perlengkapan payung, tali-temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri).
Sejarah Pacu Jalur berawal abad ke-17, dimana jalur merupakan alat transportasi utama warga desa di Rantau Kuantan, yakni daerah di sepanjang Sungai Kuantan yang terletak antara Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu hingga Kecamatan Cerenti Kecamatan Cerenti di hilir. Saat itu memang belum berkembang transportasi darat. Akibatnya jalur itu benar-benar digunakan sebagai alat angkut penting bagi warga desa, terutama digunakan sebagai alat angkut hasil bumi, seperti pisang dan tebu, serta berfungsi untuk mengangkut sekitar 40 orang. Kemudian muncul jalur-jalur yang diberi ukiran indah, seperti ukiran kepala ular, buaya, atau harimau, baik di bagian lambung maupun selembayung-nya, ditambah lagi dengan perlengkapan payung, tali-temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri).
Perubahan tersebut
sekaligus menandai perkembangan fungsi jalur menjadi tidak sekadar alat angkut,
namun juga menunjukkan identitas sosial. Sebab, hanya penguasa wilayah,
bangsawan, dan datuk-datuk saja yang mengendarai jalur berhias itu. Baru pada
100 tahun kemudian, warga melihat sisi lain yang membuat keberadaan jalur itu
menjadi semakin menarik, yakni dengan digelarnya acara lomba adu kecepatan antar
jalur yang hingga saat ini dikenal dengan nama Pacu Jalur.
Pada awalnya, pacu
jalur diselenggarakan di kampung-kampung di sepanjang Sungai Kuantan untuk
memperingati hari besar Islam. Namun, seiring perkembangan zaman, akhirnya Pacu
Jalur diadakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan
Republik Indonesia. Oleh karena itu
Pacu Jalur diadakan sekitar bulan Agustus. Dapat digambarkan saat hari
berlangsungnya Pacu Jalur, kota Jalur bagaikan lautan manusia. Terjadi
kemacetan lalu lintas dimana-mana, dan masyarakat yang ada diperantauan akan
terlihat lagi, mereka akan kembali hanya untuk menyaksikan acara ini. Biasanya
jalur yang mengikuti perlombaan, bisa mencapai lebih dari 100. Menurut
masyarakat setempat jalur adalah 'perahu besar' terbuat dari kayu bulat tanpa
sambungan dengan kapasitas 45-60 orang pendayung (anak pacu).
Pada masa
penjajahan Belanda pacu jalur diadakan untuk memeriahkan perayaan adat, kenduri
rakyat dan untuk memperingati hari kelahiran ratu Belanda wihelmina yang jatuh
pada tanggal 31 Agustus. Kegiatan pacu jalur pada zaman Belanda di mulai pada
tanggal 31 agustus s/d 1 atau 2 september. Perayaan pacu jalur tersebut dilombakan
selama 2-3 hari, tergantung pada jumlah jalur yang ikut pacu.
Pembuatan jalur melalui
proses yang cukup panjang, yaitu:
1. Untuk menyusun
rencana kerja pertama-tama diselenggarakan musyawarah atau rapek kampung yang
dihadiri oleh berbagai unsur seperti pemuka adat, cendekiawan, kaum ibu dan
pemuda, dipimpin oleh seorang pemuka desa, biasanya pemuka adat. Bila
disepakati untuk membuat jalur, lalu ditentukan langkah lebih lanjut.
2. Memilih kayu. Kayu
yang dicari itu harus memenuhi persyaratan kwalitas (jenis), ukuran dan
lain-lain, terutama bobot magis atau spi¬ritualnya. Jenis kayu yang dipilih
adalah kayu banio, kulim kuyiang atau yang lain, harus lurus panjangnya sekitar
25-30 meter, garis te-ngah 1-2 meter dan mempunyai mambang (sejenis makhluk
halus). Harus dipertimbangkan agar setelah menjadi jalur dapat mendukung anak
pacu 40-80 orang. Dalam acara pemilihan kayu ini peranan pawang sangat penting.
Sesudah pilihan ditentukan dibuatlah upacara semah agar kayu itu tidak "hilang"
secara gaib.
3. Menebang kayu. Kayu
yang sudah disemah oleh pawang lain ditobang dengan alat kapak dan beliung.
Dahan dan ranting dipisahkan.
4. Memotong ujung.
Kayu yang sudah bersih diabung (dipotong) ujungnya menurut ukuran tertentu
sesuai dengan panjang jalur yang akan dibuat kemudian kulit kayu dikupas,
diukur dibagi atas bagian haluan, telinga, lambung, dan kemudian dengan alat
benang.
5. Pendadan atau
meratakan bagian depan (dada) yakni bagian atas kayu yang memanjang dari
pangkal sampai ke ujung.
6. Mencaruk, atau
mengeruk, melubangi bagian dalam kayu yang panjang itu dengan ketebalan yang
seimbang.
7. Menggiling atau
memperhalus bagian samping atas sehingga terbentuk bagian bibir perahu
sekaligus mulai membentuk bagian luar bagian atas.
8. Manggaliak atau
membalikkan dan menelungkupkan, yang tadinya terletak diatas ganti berada di
bawah sehingga bagian luar dapat dikenakan, dirampingkan dengan leluasa.
Pekerjaan ini memerlukan perhitungan cermat sebab harus selalu menjaga
keseimbangan kete¬balan semua bagian jalur. Cara mengukurnya antara lain dengan
membuat lubang-lubang kakok atau bor yang kemudian ditutup lagi dengan semacam
pasak.
9. Manggaliak atau
menelentangkan lagi.
10. Membentuk haluan
dan kemudi.
11. Menghela atau
menarik jalur yang sudah setengah jadi itu ke kam¬pung disertai upacara maelo
jalur. Disini kegotongroyongan sangat besar artinya.
12. Menghaluskan,
mengukir terus dinaikkan ke atas ram Account pian lalu diasapi.
13. Penurunan jalur ke
sungai, selesailah proses pembuatan perahu yang ditutup dengan upacara pula.
Perlombaan Pacu Jalur Taluk Kuantan memakai penilaian sistem gugur. Sehingga peserta
yang kalah tidak boleh turut bermain kembali. Sedangkan para pemenangnya akan
diadu kembali untuk mendapatkan pemenang utama. Selain itu juga menggunakan sistem setengah kompetisi.
Dimana setiap regu akan bermain beberapa kali, dan regu yang selalu menang
hingga perlombaan terakhir akan menjadi juaranya. Perlombaan meriah ini dimulai
dengan tanda yang cukup unik, yaitu dengan membunyikan meriam sebanyak tiga
kali. Meriam ini digunakan karena bila memakai peluit, suara peluit tidak akan
terdengar oleh peserta lomba. Karena luasnya arena pacu dan riuh penonton yang
menyaksikan perlombaan.
Pada dentuman pertama jalur-jalur yang telah ditentukan
urutannya akan berjejer di garis start dengan anggota setiap regu telah berada
di dalam jalur. Pada dentuman kedua, mereka akan berada dalam posisi siap
(berjaga-jaga) untuk mengayuh dayung. Setelah wasit membunyikan meriam untuk
yang ketiga kalinya, maka setiap regu akan bergegas mendayung melalui jalur
lintasan yang telah ditentukan. Sebagai catatan, ukuran dan kapasitas jalur
serta jumlah peserta pacu dalam lomba ini tidak dipersoalkan, karena ada
anggapan bahwa penentu kemenangan sebuah jalur lebih banyak ditentukan dari kekuatan
magis yang ada pada kayu yang dijadikan jalur dan kekuatan kesaktian sang
pawang dalam "mengendalikan" jalur.
EVENT
Kegiatan Pacu Jalur
merupakan pesta rakyat yang terbilang sangat meriah. Menurut kepercayaan
masyarakat setempat, Pacu Jalur merupakan puncak dari seluruh kegiatan, segala
upaya, dan segala keringat yang mereka keluarkan untuk mencari penghidupan
selama setahun. Masyarakat Kuantan Singingi dan sekitamya tumpah ruah
menyaksikan acara yang ditunggu-tunggu ini.
Selain sebagai
Event olahraga yang banyak menyedot perhatian masyarakat, festiyal Pacu Jalur
juga mempunyai daya tarik magis tersendiri. Festival Pacu Jalur dalam wujudnya
memang merupakan hasil budaya dan karya seni khas yang merupakan perpaduan
antara unsur olahraga, seni, dan olah batin. Namun, masyarakat sekitar sangat
percaya bahwa yang banyak menentukan kemenangan dalam perlombaan ini adalah olah
batin dari pawang perahu atau dukun perahu. Keyakinan magis ini dapat dilihat
dari keseluruhan acara ini, yakni dari persiapan pemilihan kayu, pembuatan
perahu, penarikan perahu, hingga acara perlombaan dimulai, yang selalu diiringi
oleh ritual-ritual magis. Pacu Jalur dengan demikian merupakan adu tunjuk
kekuatan spiritual antar dukun jalur. Selain perlombaan, dalam pesta rakyat ini
juga terdapat rangkaian tontonan lainnya, di antaranya Pekan Raya, Pertunjukan
Sanggar Tari, pementasan lagu daerah, Randai Kuantan Singingi, dan pementasan
kesenian tradisional lainnya dari kabupaten atau kota di Riau.
PARALAYANG
Paralayang (bahasa Inggris: paragliding)
adalah olahraga terbang bebas dengan menggunakan sayap kain (parasut) yang lepas landas dengan kaki untuk tujuan rekreasi atau kompetisi.
Induk organisasinya adalah PLGI (Persatuan Layang Gantung Indonsia), sedangkan
PLGI sendiri dibawah naungan FASI (Federasi Aero Sport Indonesia)
Olahraga paralayang
lepas landas dari sebuah lereng bukit atau gunung dengan memanfaatkan angin.
Angin yang dipergunakan sebagai sumber daya angkat yang menyebabkan parasut ini
melayang tinggi di angkasa terdiri dari dua macam yaitu, angin naik yang
menabrak lereng (dynamic lift) dan angin naik yang disebabkan karena thermal (thermal
lift). Dengan memanfaatkan kedua sumber itu maka penerbang dapat terbang
sangat tinggi dan mencapai jarak yang jauh. Yang menarik adalah bahwa semua
yang dilakukan itu tanpa menggunakan mesin, hanya semata-mata memanfaatkan
angin.
Peralatan paralayang sangat ringan, berat seluruh
perlengkapannya (parasut, harness, parasut cadangan, helmet) sekitar 10 –
15 kg. Peralatan paralayang juga sangat praktis karena dapat dimasukkan ke
dalam ransel yang dapat digendong di punggung.
Perlengkapan utama dalam olahraga paralayang antara lain
parasut utama dan cadangan, harness, dan helmet. Perlengkapan pendukung terbang
yang diperlukan antara lain variometer, radio/HT, GPS, windmeter, peta lokasi
terbang, dll. Sedang perlengkapan pakaian penerbang antara lain baju
terbang/flight suit, sarung tangan, dan sepatu berleher tinggi/boot. Jenis
parasut yang dipergunakan sangat tergantung dari tingkat kemampuan penerbang
dan berat penerbang. Setidak-tidaknya terdapat tiga jenis parasut paralayang
yaitu, parasut untuk pemula, parasut untuk penerbang menengah, dan parasut untuk
penerbang mahir. Ukuran parasut juga harus sesuai dengan berat penerbangnya.
Ukuran yang tersedia antara lain XS, S, M, L serta LL untuk terbang
berdua/tandem.
Pilot duduk di suatu sabuk (harness)
yang menggantung di bawah sayap kain yang bentuknya ditentukan oleh ikatan tali
dan tekanan udara yang memasuki ventilasi di bagian depan sayap. Olahraga ini
mulai muncul pada sekitar 1950-an dan kejuaraan dunia pertamanya dilangsungkan pada tahun 1989 di Kössen, Austria.
Di Yogyakarta latihan paralayang biasa dilakukan di kawasan
tebing Parangndog dengan pendaratan di pantai Parangtitis. Bulan-bulan baik
untuk melakukan latihan adalah dari Januari hingga April.
LEMPAR LEMBING
Lempar lembing merupakan salah satu
cabang olahraga dalam atletik.Olahrga ini dilakukan
dengan melemparkan lembing dalam jarak
tertentu.Untuk mencapai jarak maksimum, atlet harus menyeimbangkan
tiga hal, yaitu kecepatan, teknik dan kekuatan.
Atlet Skandinavia mendominasi 50 tahun
pertama kejuaraan lempar lembing pria. Lalu,
kejuaraan tersebut dilakukan oleh Swedia pada tahun 1896.
Lempar lembing menjadi bagian dari olimpiade sejak tahun 1908 dan
pada tahun 1932 diadakan kejuaraan lempar lembing untuk perempuan dalam olimpiade.
PACUAN KUDA
Pacuan kuda adalah olah raga berkuda yang sudah ada sejak berabad-abad
yang lalu. Kuda dilatih untuk berpacu menuju garis akhir (finish)
melawan peserta lain. Contohnya adalah balap kereta kuda yang populer pada masa Romawi kuno. Di kalangan masyarakat Nordik juga dikenal pacuan kuda milik dewa Odin dengan raksasa Hrungnir dalam mitologi mereka. Pacuan kuda seringkali tidak dapat
dipisahkan dari judi. Olah raga ini sering
disebut sebagai Olah raga raja-raja.
Salah satu bentuk
utama dari pacuan kuda yang populer di banyak bagian dunia sekarang adalah pacuan kuda Thoroughbred. Harness racing juga populer di daerah sebelah timur Amerika Serikat dan lebih populer dibandingkan dengan
pacuan thoroughbred di Kanada dan beberapa bagian Eropa.
Pembiakan, latihan
dan pacuan kuda di banyak negara kini menjadi aktivitas ekonomi yang penting
sehingga, dalam banyak hal ia menjadi pendukung kegiatan perjudian. Kuda-kuda
yang luar biasa dapat memenangkan jutaan dolar dan menghasilkan berjuta-juta
dolar lagi dengan menjadi pejantan lewat pembiakan kuda.
Banyak bahaya dari
pacuan kuda baik bagi kuda maupun penunggangnya (joki): kuda dapat tersandung
dan jatuh, kemudian terinjak bisa patah tulang dan mungkin akan terbunuh.
Bahaya bisa juga
dari para joki sendiri, masing-masing ingin menjatuhkan lawan dengan cara
curang, misalnya permainan tangan atau kaki untuk menjatuhkan lawan dengan trik
tertentu tidak dapat dilihat oleh penonton atau panitia. Trik ini terutama pada
saat berjajar dan berhimpit lebih mudah lagi kalau di tikungan untuk
menjatuhkan, karena di tikungan untuk menjaga keseimbangan badan harus
benar-benar mahir.