Popular posts

Unknown On Senin, 01 Juni 2015


1. Olahraga Ski Air

Ski air dimulai pada 1922 ketika Ralph Samuelson menggunakan dua papan ski dan sebagai jemuran sebagai tali derek di Danau Pepin di Lake City, Minnesota . Olahraga tetap menjadi aktivitas banyak diketahui selama beberapa tahun. Samuelson mengambil aksi di jalan, melakukan acara dari Michigan ke Florida. Pada tahun 1966, American Water Ski Asosiasi resmi diakui Samuelson sebagai yang pertama dalam catatan.




Ski Air menjadi bagian dari beberapa turnamen dan kompetisi air banyak ski disatukan. Sebagai olahraga pameran, ski air yang termasuk dalam Olimpiade 1972 . Nasional pertama Tampilkan Turnamen Ski diadakan pada tahun 1974. Desain dipatenkan pertama dari ski air yang termasuk serat karbon adalah bahwa dari Hani Audah di SPORT laboratorium pada tahun 2001, dan inklusi pertama di slalom ski turnamen itu pada 2003. Yang selalu Nasional pertama antar perguruan Ski Air Kejuaraan diselenggarakan di 1979.Kompetisi pertama untuk para penyandang cacat diselenggarakan sepuluh tahun kemudian, dan disebut Home PERAWATAN US National Air Tantangan Ski. 





Teknik

Ski air biasanya dimulai dengan awal air yang dalam, dengan pemain ski berjongkok di dalam air.Ketika pemain ski sudah siap, sopir mempercepat perahu untuk menarik pemain ski dari air.

Selain pengemudi dan pemain ski, orang ketiga yang dikenal sebagai pengintai / pengamat harus hadir. Pekerjaan pengintai adalah untuk menonton pemain ski dan menginformasikan pengemudi jika pemain ski jatuh. Komunikasi antara pemain ski dan penghuni perahu dilakukan dengan sinyal tangan.

Kecepatan bervariasi dari lambat seperti 22 kilometer per jam (14 mph, 12 kn) sampai dengan 58 kilometer per jam (36 mph, 31 kn) untuk ski slalom air; sampai kira-kira 72 kilometer per jam (45 mph; 39 kn) untuk ski tanpa alas kaki, dan mendekati 190 kilometer per jam (120 mph, 100 kn) dalam balap ski air Panjang tali juga akan sangat bervariasi tergantung pada disiplin olahraga dan tingkat keterampilan.



Sumber: http://teknikbermain.blogspot.com/2012/05/sejarah-ski-air-teknik.html



2. Olahraga Pacuan Kuda

Sejarah

Pacuan kuda adalah Olahraga berkuda yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu, lomba dimana seorang joki mengendarai/ menunggangi kuda untuk mencapai garis finish secepatnya dengan lintasan yang telah ditentukan. Awalnya pacuan kuda sering menggunakan kereta, Contohnya adalah balap kereta kuda yang populer di masa Romawi kuno. Di kalangan masyarakat Nordik juga dikenal pacuan kuda milik dewa Odin dengan raksasa Hrungnir dalam Mitologi mereka di daerah Eropa. Pacuan kuda sering berkaitan dengan judi, karena dari sanalah pendapatan utama bagi penyelenggara. Olah raga ini sering disebut sebagai Olah raga raja-raja.



Bentuk-bentuk olahraga pacuan kuda



Salah satu bentuk utama dari pacuan kuda yang populer di banyak bagian dunia sekarang adalah Pacuan KudaThoroughbred Race. Harness racing juga populer di daerah sebelah timur Amerika Serikat dan lebih populer dibandingkan dengan pacuan thoroughbred di Kanada dan beberapa bagian Eropa.

Pembiakan, latihan dan pacuan kuda di banyak negara kini menjadi aktivitas ekonomi yang penting sehingga, dalam banyak hal ia menjadi pendukung kegiatan perjudian. Kuda-kuda yang luar biasa dapat memenangkan jutaan dolar dan menghasilkan berjuta-juta dolar lagi dengan menjadi pejantan lewat pembiakan kuda.



Istilah pada lomba pacuan kuda

1.      Drawing: adalah sebuah rapat penentuan RACE untuk suatu event pacuan. Diadakan dua atau tiga hari menjelang pacuan hari pertama. Bertujuan untuk menentukan masing-masing kuda masuk pada klas dan race yang mana. Sebelum acara drawing, masing-masing kuda akan diukur ketinggiannya oleh Dewan Juri Pacuan (aturan PORDASI).

2.      Race atau disebut juga RUN: adalah istilah untuk menyebut pertandingan pacuan kuda. Dalam satu hari pacuan biasanya terdapat 10 s/d 13 race. Masing-masing kuda hanya boleh lari pada 1 race sesuai dengan kelas yang dipilih dan aturan/ukuran kuda. Race ditentukan saat drawing.

3.      Scratch: istilah yang dipakai bila kuda tidak jadi ikut lomba baik dengan sukarela atau terpaksa karena tidak bisa masuk startgate dalam batas waktu yang sudah ditentukan.

4.      Startgate: adalah peralatan untuk melakukan START dalam suatu lomba. Bentuknya adalah rangkaian besi untuk memasukkan kuda dan jockey sebelum aba-aba “START” dilakukan. Start gate berbentuk sebuah rangkaian beberapa kotak yang longgar sehingga kuda bisa berhenti dan menunggu untuk lepas melesat kedepan. Sebuah pintu tertutup rapat didepan dan akan terbuka secara bersamaan setelah bendera START dan tuas START ditekan oleh seorang START MASTER. Sebuah startgate bersifat mobil dapat dipindahkan sesuai garis start yang ditentukan dengan bantuan sebuah kendaraan penarik.

5.      START Master: Start master adalah petugas dalam lomba pacuan sebagai pelepas kuda.

6.      Gate Master: Petugas yang melakukan pekerjaan dilingkungan startgate, memasukkan kuda-kuda kedalam kotak-kotak start, menutup pintu start, memindahkan startgate dsb.

7.      Dewan Stewards atau disebut juga Dewan Juri: Adalah suatu komisi yang bertanggung jawab atas jalannya lomba pacuan. Menentukan apakah pacuan bisa diteruskan atau diberhentikan, menentukan apakah kuda boleh dilarikan atau tidak, menentukan siapakah pemenang suatu lomba, menentukan apakah jockey telah melakukan pelanggaran dan juga memberikan peringatan.

8.      Photo Finish: Suatu peralatan photography yang dipasang digaris finish untuk merekam kuda-kuda yang masuk garis finish. Penting sebagai penentu siapakah kuda yang memasuki finish lebih awal bila ada dua atau lebih secara bersama memasuki garis finish. Bila tidak mempergunakan photo finish, bila terdapat kuda kuda yang secara bersamaan memasuki garis finish maka pemenangnya adalah kuda yang berada di band paling luar.

9.      Band: adalah garis pembatas track pacu terbuat dari kayu, fiber, beton atau besi atau bahkan tali temali yang terangkai mengelilingi track pacu. Band dalam artinya garis pembatas track pacu sebelah dalam sedangkan band luar adalah garis pembatas sebelah luar track. Band dalam dibuat setinggi 40-60 cm sedangkan band luar 80-100 cm.

10.  Track: adalah jalur melingkar berbentuk oval lebarnya antara 10 s/d 15 M sebagai jalur pacu kuda. Landasan bervariasi ada tanah hitam, tanah rumput atau pasir. Sesuai aturan PORDASI kuda lari mengelilingi track dengan arah searah jarum jam (kekanan). Track dibatasi oleh dua garis pembatas yaitu sebelah dalam dan sebelah luar. Kuda tidak boleh keluar dari track pacu selama lomba.

11.  Stall Paddock atau disebut paddock pameran: adalah suatu area dilapangan pacuan kuda dimana kuda-kuda menunggu pacuan dimulai. Kuda-kuda akan berjalan beriringan,sesuai dengan nomor punggung masing-masing, mengelilingi paddock yang sekaligus memberikan kesempatan kepada para penggemar pacuan kuda untuk mengamati “performance” kuda masing-masing. Paddock pameran berada didepan tribune kehormatan dan sekaligus didepan garis finish.

12.  Control Tower: Adalah sebuah menara untuk Dewan Stewards sebagai tempat melakukan kontrol monitoring atas jalannya lomba.



Peralatan Dasar Berkuda Yang Harus Anda Ketahui

Bagi anda para pemula dalam olah raga berkuda, peralatan dasar yang harus anda ketahui dan miliki sebagai perlengkapan wajib. Peralatan tersebut harus anda kontrol baik kelengkapannya maupun kualitasnya. Peralatan dasar itu terbagi dalam 2 hal:

1. Peralatan Bagi Si Penunggang

Peralatan dasar bagi penunggang kuda terdiri atas peralatan keamanan dan pelindung diri antara lain: standard safety helmet (helm), sepatu tunggang/boot, pelindung dada (bila perlu), kaca mata (race). Serta Cemeti (pecut).

2. Peralatan Bagi Si Kuda:

Peralatan bagi si kuda terdiri atas Peralatan Punggung atau disebut pelana/saddle beserta perlengkapannya dan Peralatan Kepala atau disebut Head Bridle dan perlengkapannya.

Peralatan Punggung Kuda terdiri atas:

a.      Pelana Kuda atau disebut “Saddle=English”.

b.      Alas Saddle atau dikenal dengan kata “Lebrak=Jawa”, atau “Saddle Pad = English”.

c.       Sanggurdi atau dikenal dengan kata “Songgowedi=Jawa” atau “Stirrups = English”.

d.      Tali Sanggurdi atau dikenal dengan kata “Tali Ulur = Jawa” atau “Adjustable Stirrup Straps=English”.

e.      Amben atau dikenal dengan kata Tali Perut atau “Girth = English” terdiri atas Amben Luar dan Amben Dalam.

Sedangkan Peralatan Kepala terdiri atas:

a.      Sarungan Kepala atau “Head Bridle=English” dengan berbagai variasi seperti dengan Nose-band dll.

b.      Kendali besi atau dikenal dengan kata “Cakotan=Jawa” atau “Bite=English”.

c.       Tali Kekang atau dikenal dengan kata “Lis = Jawa” atau “Reins=English”.

d.      Martingal alat ini dipakai untuk membantu menggendalikan kuda. Ada vertikal martingal dan horizontal martingal.

e.      Tali Tuntunan atau disebut “Lead Rope=English”.

Tingkatan dan umur pada pacuan kuda

Pacuan kuda memiliki tingkat sendiri ditiap lombanya. Dan untuk berlaga ditingkat selanjutnya, kuda harus masuk posisi 5 besar pada tingkat sebelumnya. Tingkatannya adalah sebagai berikut :

·         Maiden Race (balapan untuk kuda pemula)

·         Class D (berada 1 tingkat diatas Maiden Race)

·         Class C (berada 1 tingkat diatas Class D)

·         Class B

·         Class A

·         Grade III

·         Grade II

·         Grade I (merupakan tingkatan tertinggi dalam pacuan. Grade I Race pesertanya minimal telah masuk Grade III. Dan Grade I dibagi menjadi 2 yakni untuk kuda lokal dan untuk internasional.)

Sedangkan umur untuk ikut lomba Flat Race(untuk Jumping Race tinggal ditambah 1 tahun) adalah :

·         2 tahun (mulai dapat mengikuti Maiden Race dan memilikiGrade I Race khusus untuk kuda muda.)

·         3 tahun (bagi kuda yang sukses di umur 2 tahun, dapat mengikuti kejuaraan 3 Grade I Race utama untuk kuda 3 tahun)

·         4 tahun (masa transisi, disini kuda sudah harus melawan yang lebih tua dari dirinya. Kebanyakan kuda2 4 tahun kalah ditangan kuda2 5 tahun yang telah matang baik skill maupun usia)

·         5 tahun (masa emas bagi seekor kuda pacu)

·         6 tahun (masa menurun, biasanya kuda2 hebat mulai pensiun dan membuat keturunan saat kondisinya masih bagus)

·         Umumnya, kuda maksimal mengikuti lomba hingga berusia 8 tahun.




3. Olahraga Selam
Diving adalah kegiatan menyelam dengan menggunakan peralatan selam lengkap seperti Fin, Mask, Tabung Osigen beserta regulator. Sebenarnya olahraga diving adalah olahraga yang aman asalkan dilakukan dengan teknik yang benar. Berikut ini adalah beberapa teknik diving atau menyelam yang benar yang sebaiknya kuasai:

   
1. Teknik Menjernihkan Masker

Teknik diving yang pertama ini adalah teknik dasar yang harus dikuasai oleh semua penyelam. Caranya dengan menghirup udara lewat mulut, kemudian sesaat sebelum menghembuskan udara lewat hidung bagian bawah dari masker dibuka sedikit agar udara yang terperangkap dapat keluar

2. Teknik Regulator Recovery

Ketika saat sobat menyelam mouthpiece terlepas maka jangan panik. Untuk mengatasinya bisa dengan cara menggerakan tangan dari depan sampai kepaha (seperti membuat lingkaran) hinnga menyapu selang regulator.

3. Teknik Regulator Clearing

Teknik diving yang ketiga ini dilakukan ketika selang mengalami kebocoran hingga menyebabkan air masuk kedalam. Untuk mengatasinya cukup mudah yaitu dengan menekan tombol purge. Tombol purge tersebut berfungsi untuk mengeluarkan air secara otomatis dari regulator.

4. Teknik Naik Ke Permukaan

Jika sobat menyelam yang cukup dalam maka perlu menggunakan teknik yang benar ketika akan naik ke permukaan. Hal ini dilakukan untuk menghindari dari resiko cidera. Ketika akan naik kepermukaan harus mempertimbangkan kecepatan, yaitu sekitar 9 m /mnt. Selain itu juga harus menjaga nafas dalam keadaan normal (jangan ditahan). Ketika sudah mencapai 5 meter sebelum permukaan, berhentilah terlebih dahulu pastikan keadaan di atas permukaan aman.

5. Teknik Berenang

Teknik diving yang terakhir yaitu teknik berenang. Sama seperti halnya dalamsnorkeling, ketika menyelam juga mengandalkan tenaga dari ayunan kaki. Ketika mengayunkan kaki perhatikan ritmenya jangan terlalu kencang karena hanya akan menguras tenaga. Penggunaan tangan hanya untuk melakukan manuver saja.




4. Olahraga Panjat Tebing

                       

Alat - Alat Pemanjatan
Alat-alat yang diguanakan dalam pemanjatan artificial
 

1. Tali Carmentel
Secara umun tali Carmentel di bagi menjadi dua macam yaitu :
- Static adalah tali yang mempunyai daya lentur 6%
9%, digunakan untuk tali fixed rope yang digunakan untuk ascending atau descending. Standart yang digunakan adalah 10,5 mm.

- Dynamic adalah tali yang mempunyai daya lentur hingga 25%, digunakan sebagai tali utama yang menghubungkan pemanjat dengan pengaman pada titik tertinggi.

                                       

2. Harnest adalah alat pengikat di tubuh sebagai pengaman yg nantinya dihubungkan dengan tali.

                                                          

3. Carabiner adalah cincin kait yg terbuat dari alumunium alloy sebagai pengait dan dikaitkan dgn alat lainnya.

- Karabiner Skrup/carabiner srew gate
- Karabiner Snap/carabiner non screw gate

                                       

4. Helmet adalah pelindung kepala yg melindungi kepala dari benturan dari benda-benda yang terjatuh dari atas.

                                                                    

5. Webbing, peralatan panjat yg berbentuk pipih tidak terlalu kaku dan lentur, biasa digunakan sebagai harnest

                                                                  
6. Prusik,
 merupakan jenis tali carmentel yg berdiameter 5-6 mm, biasanya digunkan sbg pengganti sling runner dan juga dpt digunakan untuk meniti tali keatas dengan menggunakan simpul prusik, seperti pada SRT.

                                                                      
7. Sepatu Panjat, sbg pelindung kaki dan mempunyai daya friksi yg tinggi sehingga dpt melekat di tebing. Jenisnya sendiri yang sering digunakan adalah soft (lentur/fleksibel) dan hard (keras)

                                                                           
8. Chock bag/Calk bag, sebagai tempat MgCo3 (Magnesium Carbonat) yg berfungsi agar tangan tdk licin karena berkeringat sehingga akan membantu dalam pemanjatan.

                                                                

9. Descender, peralatan yg digunakan untuk meniti tali kebawah serta mengamankan leader disaat membuat jalur, biasanya yg sering digunakan adalah figure of eight dan auto stop.

                                                              

10. Ascender, peralatan yg digunakan untuk meniti tali ke atas dan secara otomatis akan mengunci bila dibebani. Jenis yang digunakan biasanya jumar dan croll

                                                 

11. Grigri, alat ini digunakan untuk membelay, alat ini mempunyai tingkat keamanan yg paling tinggi karena dapat membelay dengan sendirinya. 

                                                          

12. Hammer, berfungsi untuk menanamkan pengaman dan melepaskan kembali, biasanya yg diapakai jenisnya ringan dan mempunyai kekuatan tinggi dan ujungnya berfungsi mengencangkan mur pada saat memasang hanger.

                                                         

13. Pulley, mirip katrol, kecil dan ringan tetapi memiliki kemampuan dalam beban yg berat. Digunakan untuk perlengkapan evakuasi.

                                                    

14. Handdrill, merupakan media untuk mengebor tebing secara manual, yg berfungsi untuk menempatkan pengaman berupa bolt serta hanger.

                                                     


Simpul Yang Digunakan Dalam Pemanjatan


 1. Simpul Delapan Ganda
Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan tubuh atau harnest. Toleransi 55%
59%.



2. Simpul Delapan Tunggal
Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan tubuh atau harnest apabila carabiner tidak ada Toleransi 55%
59%.



3. Simpul Pangkal

Untuk mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope) pada anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 45%.


4. Simpul Jangkar
Untuk mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope) pada anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 45%.


5. Simpul Kambing / bowline knot
Untuk pengaman utama dalam penambatan atau pengaman utama yang dihubungkan dengan penambat atau harnest. Toleransi 52%.


6. Simpul Kupu
kupu / Butterfly knot
Untuk membuat ditengah atau diantara lintasan horizon. Bisa juga digunakan untuk menghindari tali yang sudah friksi. Toleransi terhadap kekuatan tali 50%.


7. Simpul Nelayan / Fisherman Knot
Untuk menyambung 2 tali yang sama besarnya dan bersifat licin. Toleransi 41%
50%


8. Simpul Frusik
Simpul yang digunakan dalam teknik Frusiking SRT



9. Simpul Pita
Untuk Menyambung Tali yang sejenis, yang sifatnya licin atau berbentuk pipih (umumnya digunakan untuk menyambung Webbing)


 10. Simpul Italy
Untuk repeling jika tidak ada figure eight atau grigri. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang 45%.

o Overhand Knot
Untuk mengakhiri pembuatan simpul sebelumnya. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 40%.
o Clove hitch knot
Untu mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope) pada anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 45%.
o Figure of eight knot
Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan tubuh atau harnest. Toleransi 55%
59%.
o Eight on bight knot
Untuk pengaman utama dalam penambat pada dua anchor. Toleransi 68%.
o Simpul two in one
Simpul ini biasanya digunakan sebagai penambat pada anchor natural saat cleaning, yaitu ketika pemanjat selesai dan turun dari tebing tanpa meninggalkan alat.


Kode
Kode yang Digunakan Dalam Pemanjatan
Kode kode pemanjatan adalah sebagai berikut :
1. Climb : Pemanjat Menginstrusi kepada Pembilay bahwa pemanjat siap memanjat
2. Climbing : Pembilay Memberitahukan kepada pemanjat bhw dia siap mengamankan
pemanjat
3. On Belay : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay bahwa pemanjat memulai
memanjat
4. Belay On : Pembilay Memberitahukan kepada pemanjat bhw dia telah mengamankan pemanjat
5. Full : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay agar tali dikencangkan
6. Slack : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay agar tali dikendorkan
7. Rock : Pemanjat Memberitahukan kepada orang yang berada dibawah bahwa ada batuan tebing yang jatuh
8. Top : Pemanjat Memberitahukan bahwa dia telah sampai pada puncak
9. Belay of : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay bahwa dia tidak membutuhkan lagi pengamanan
10. Of Belay : Pembilay Menginstrusi kepada pemanjat bahwa dia tidak mengamankan lagi


Jenis Pegangan

1. Open Grip : Pegangan pada pemanjatan yang dilakukan dengan posisi tangan terbuka,biasanya digunakan pada tebing tebing datar

2. Cling Grip : Pegangan pada pemanjatan yang dilakukan degan menggunakan seluruh jari tangan dan dan agak mirip mencubit biasanya digunakan pada tebing yang permukaannya banyak tonjolan,
3. Pinch Grip : Pegangan pada pemanjatan yang mirip dengan mencubit,dan mengandalkan kekuatan jempol dan telunjuk yang biasa digunakan untuk memegang poin
poin kecil pada tebing
4. Poket Grip : Pegangan pada pemanjatan dilakukan dengan cara memasukkan jari
jari kedalam celahan/ lobang tebing, biasanya digunakan pada tebing limenstone ( kapur ) yang banyak memiliki poin lobang.
5. Vertikal Grip : Pegangan pada pemanjatan yang bertumpu pada poin tebing dengan menggunakan kekuatan lengan untuk bertumpu dan menaikkan badan.


Jenis Pijakan
 

 1. Frinction Steep : Pijakan dalam pemanjatan yang bertumpu pada kaki bagian depan dan mengandalkan gesekan karet sepatu.
2. Eadging : Pijakan dalam pemanjatan yang menggunakan sisi luar kaki.
3. Mearing : Pijakan dalam pemanjatan yang menggunakan seluruh alas kaki (Pijakan Biasa)
4. Hel Hooking : Pijakan dalam pemanjatan yang dilakukan untuk mengantisipasi poin2 yang menggantung dengan menggunakan kekuatan kaki untuk mengangkat badan keatas untuk menggapai poin selanjutnya.


Teknik Pemanjatan

1. Artificial Climbing

Adalah olahraga yang dilakukan pada tebing-tebing dengan tingkat kesulitan yang tinggi dengan bermodalkan alat yang diselipkan pada celah-celah batu atau memanfaatkan pengaman alam (natural anchor).
Artificial climbing ini dimana alat benar-benar digunakan sebagai penambah ketinggian disampin sebagai pengaman pemanjatan.
2. Soloing
Adalah Pemanjatan yang dilakukan dengan mengandalkan kekuatan tubuh untuk langsung mencapai top tanpa menggunakan pengaman, biasanya dilakukan oleh pemanjat profesional karna sangat berbahaya.
3. Boldering
Pemanjatan yang dilakukan untuk melatih kekuatan dan kelenturan badan yang biasanya dilakukan secara enyamping pada tebing
tebing pendek atau tebing buatan.
4. Free Climbing
Pada prinsipnya hampir sama dengan pemanjatan artificial hanya dalam free climbing alat digunakan hanya sebagai pengaman saja sedangkan untuk menambah ketinggian menggunakan pegangan tangan dan friksi (gaya gesek) kaki sebagai pijakan.
5. Runer to runer
Pemanjatan yang dilakukan tahap demi tahap,dilakukan pada pemanjatan yang sudah memiliki jalur yang berupa ancor/penambat, biasa juga diperlombakan pada wall buatan.




5. Olahraga Panahan

Latar Belakang

Olahraga panahan sudah lama dikenal di Indonesia, olahraga ini membutuhkan sentuhan jiwa yang halus, kesabaran, keuletan, konsentrasi dan ketahanan mental yang tinggi serta memiliki tingkat kecemasan yang tinggi. Sehingga unsur-unsur seperti postur tubuh, teknik dasar, mekanisme gerak, mentalitas dan kondisi fisik sebagai sebuah kesatuan yang harus dimiliki oleh seorang pemanah. Seperti sebuah seni, olahraga panahan sangat kompleks tidak seperti yang kita lihat yaitu menarik, dan melepaskan panah.

Dilihat dari karakteristiknya olahraga panahan adalah melepaskan panah melalui lintasan tertentu menuju sasaran pada jarak tertentu. Apabila diperbandingkan dengan olahraga yang memerlukan gerak statis atau suatu keterampilan tertutup lainnya seperti cabang olahraga menembak, perbedaan panahan dengan menembak terletak pada jenis kekuatan dorongannya.

Pada menembak kekuatan dorongan diperoleh dari ledakan alat itu sendiri, sedangkan pada panahan kekuatan dorongan sangat tergantung pada energi atau tenaga yang timbul karena tarikan atau rentangan pemanah terhadap busur, dimana energi yang diperoleh dari rentangan diubah menjadi daya dorong pada waktu panah dilepaskan. Oleh karena itu penggunaan alat tersebut memerlukan kekuatan dan daya tahan otot-otot tertentu terutama untuk menarik busur.

Dalam olahraga panahan atau olahraga lainnya, atlet sangat dituntut untuk menampilkan penampilan terbaiknya. Nampaknya ini bukanlah sesuatu yang mudah bagi atlet yang tidak terlatih, bahkan atlet terlatih pun seringkali mengalami kesulitan.

Dalam cabang olahraga panahan selain membutuhkan kondisi fisik yang prima seorang pemanah harus pula menguasai teknik dasar memanah yang baik dan benar agar dapat mencapai prestasi optimal. Seorang pemanah dikatakan memiliki kondisi fisik yang prima, jika ia memiliki daya tahan serta kekuatan otot yang dipergunakan langsung dalam memanah. Berikut ini disajikan sembilan langkah teknik dasar untuk pemanah pemula, yaitu:

1. Sikap Berdiri (stand)

Sikap berdiri (stand), menurut Damiri, “Sikap/posisi kaki pada lantai atau tanah. Sikap berdiri yang baik ditandai oleh: (1) titik berat badan ditumpu oleh kedua kaki/tungkai secara seimbang, (2) tubuh tegak, tidak condong ke depan atau ke belakang, ke samping kanan ataupun ke samping kiri.” Terdapat empat macam sikap kaki dalam panahan, yaitu open stand, square stand, close stand, dan oblique stand, yang kebanyakan dipakai oleh pemanah pemula adalah sikap square stand atau sikap sejajar.

2. Memasang Ekor Panah (nocking)

Memasang ekor anak panah (nocking), menurut Damiri, “Gerakan menempatkan atau memasukkan ekor panah ke tempat anak panah (nocking point) pada tali dan menempatkan gandar (shaft) pada sandaran anak panah (arrow rest). Kemudian diikuti dengan menempatkan jari-jari penarik pada tali dan siap menarik tali.” Memasang ekor panah dalam olahraga panahan bisa menjadi fatal apabila salah penempatan baik terlalu atas ataupun terlalu bawah, maka perlu untuk memperhatikan kembali apakah anak panah yang dipasang sudah lurus tersandar di busur ataukah belum.

3. Mengangkat Lengan Busur (extend)

Mengangkat lengan busur (extend), menurut Damiri, “Gerakan mengangkat lengan penahan busur (bow arm) setinggi bahu dan tangan penarik tali siap untuk menarik tali.” Hal-hal yang harus diperhatikan, yaitu lengan penahan busur rileks, tali ditarik oleh tiga jari yaitu jari telunjuk, jari tengah dan jari manis.Tali ditempatkan atau lebih tepatnya diletakkan pada ruas-ruas jari pertama, dan tekanan busur terhadap telapak tangan penahan busur ditengah-tengah titik V, yang dibentuk oleh ibu jari dan jari telunjuk (lengan penahan busur), 

4. Menarik Tali Busur (drawing)

Menarik tali busur (drawing), menurut Damiri, “Gerakan menarik tali sampai menyentuh dagu, bibir dan atau hidung. Kemudian dilanjutkan dengan menjangkarkan tangan penarik tali di dagu.” Ada tiga fase gerakan menarik, yaitu pre-draw, primary draw dan secondary draw. Pre-draw adalah gerakan tarikan awal. Pada saat ini sendi bahu, sendi siku dan sendi pergelangan tangan telah dikunci. Primary-draw atau tarikan utama adalah gerakan tarikan dari posisi pre-draw sampai tali menyentuh atau menempel dan sedikit menekan atau mengetat pada bagian dagu, bibir dan hidung dan berakhir pada posisi penjangkaran. Secondary-draw atau tarikan kedua adalah gerakan menahan tarikan pada posisi penjangkaran sampai melepas tali (release).

5. Menjangkarkan Lengan Penarik (anchoring)

Menjangkarkan lengan penarik (anchoring), menurut Damiri, “Gerakan menjangkarkan tangan penarik pada bagian dagu.” Hal yang harus diperhatikan, yaitu tempat penjangkaran tangan penarik tali harus tetap sama dan kokoh menempel di bawah dagu, dan harus memungkinkan terlihatnya bayangan tali pada busur (string alignment). Ada dua jenis penjangkaran, yaitu penjangkaran di tengah dan penjangkaran di samping. Pada penjangkaran di tengah, tali menyentuh pada bagian tengah dagu, bibir dan hidung serta tangan penarik menempel di bawah dagu. Pada penjangkaran di samping, tali menyentuh pada bagian samping dagu, bibir dan hidung, serta tangan penarik menempel di bawah dagu.

6. Menahan Sikap Panahan (tighten)

Menahan sikap panahan (tighten), menurut Damiri, adalah: Suatu keadaan menahan sikap panahan beberapa saat, setelah penjangkaran dan sebelum anak panah dilepas. Pada saat ini otot-otot lengan penahan busur dan lengan penarik tali harus berkontraksi agar sikap panahan tidak berubah. Bersamaan dengan itu pemanah melakukan pembidikan. Jadi pada saat membidik, sikap pemanah harus tetap dipertahankan.

7. Membidik (Aiming)

Membidik (aiming), menurut Damiri: “Gerakan mengarahkan atau menempelkan titik alat pembidik (visir) pada tengah sasaran/titik sasaran.” Pada posisi membidik, posisi badan dari pemanah diharapkan tidak berubah, kemudian pemanah tidak hanya fokus kepada sasaran tetapi diutamakan pada teknik, dengan kondisi badan yang relaks fokus akan lebih baik.

8. Melepas Tali/Panah (release)

Melepas tali/panah (release), menurut Damiri: “Gerakan melepas tali busur, dengan cara merilekskan jari-jari penarik tali.” Ada dua cara melepaskan anak panah, yaitu dead release dan active release. Pada dead release setelah tali lepas, tangan penarik tali tetap menempel pada dagu seperti sebelum tali lepas. Pada active release, setelah tali lepas tangan penarik tali bergerak ke belakang menelusuri dagu dan leher pemanah.

Pelepasan anak panah yang baik diperlukan untuk memberikan kekuatan penuh dari tali terhadap panah dalam setiap melepaskan panah yang diinginkan dan untuk mencegah getaran tali yang tidak diperlukan, yang akan menyebabkan panah berputar. Kesalahan sedikit apapun pada saat melepaskan anak panah, mengakibatkan dampak yang sangat besar terhadap sasaran. 

9. Menahan Sikap Panahan (after hold)

Menahan sikap panahan (after hold), menurut Damiri, “Suatu tindakan untuk mempertahankan sikap panahan sesaat (beberapa detik) setelah anak panah meninggalkan busur. Tindakan ini dimaksudkan untuk memudahkan pengontrolan gerak panahan yang dilakukan.” 



Sumber: http://orkesnews.blogspot.com/2012/06/cabang-olah-raga-panah.html


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments