Unknown
On Senin, 01 Juni 2015
1. Olahraga Ski Air
Ski air dimulai pada 1922 ketika
Ralph Samuelson menggunakan dua papan ski dan sebagai jemuran sebagai tali
derek di Danau Pepin di Lake City, Minnesota . Olahraga tetap menjadi
aktivitas banyak diketahui selama beberapa tahun. Samuelson mengambil aksi
di jalan, melakukan acara dari Michigan ke Florida. Pada tahun 1966,
American Water Ski Asosiasi resmi diakui Samuelson sebagai yang pertama dalam
catatan.
Ski Air menjadi bagian dari beberapa
turnamen dan kompetisi air banyak ski disatukan. Sebagai olahraga pameran,
ski air yang termasuk dalam Olimpiade 1972 . Nasional pertama Tampilkan
Turnamen Ski diadakan pada tahun 1974. Desain dipatenkan pertama dari ski
air yang termasuk serat karbon adalah bahwa dari Hani Audah di SPORT
laboratorium pada tahun 2001, dan inklusi pertama di slalom ski turnamen itu
pada 2003. Yang selalu Nasional pertama antar perguruan Ski Air Kejuaraan
diselenggarakan di 1979.Kompetisi pertama untuk para penyandang cacat
diselenggarakan sepuluh tahun kemudian, dan disebut Home PERAWATAN US National
Air Tantangan Ski.
Teknik
Ski air biasanya dimulai dengan awal
air yang dalam, dengan pemain ski berjongkok di dalam air.Ketika pemain ski
sudah siap, sopir mempercepat perahu untuk menarik pemain ski dari air.
Selain pengemudi dan pemain ski,
orang ketiga yang dikenal sebagai pengintai / pengamat harus
hadir. Pekerjaan pengintai adalah untuk menonton pemain ski dan
menginformasikan pengemudi jika pemain ski jatuh. Komunikasi antara pemain
ski dan penghuni perahu dilakukan dengan sinyal tangan.
Kecepatan bervariasi dari lambat
seperti 22 kilometer per jam (14 mph, 12 kn) sampai dengan 58 kilometer per jam
(36 mph, 31 kn) untuk ski slalom air; sampai kira-kira 72 kilometer per jam (45
mph; 39 kn) untuk ski tanpa alas kaki, dan mendekati 190 kilometer per jam (120
mph, 100 kn) dalam balap ski air Panjang tali juga akan sangat bervariasi
tergantung pada disiplin olahraga dan tingkat keterampilan.
Sumber: http://teknikbermain.blogspot.com/2012/05/sejarah-ski-air-teknik.html
2. Olahraga Pacuan Kuda
Sejarah
Pacuan kuda adalah Olahraga berkuda yang sudah
ada sejak berabad-abad yang lalu, lomba dimana seorang joki mengendarai/
menunggangi kuda untuk mencapai garis finish secepatnya dengan lintasan yang
telah ditentukan. Awalnya pacuan kuda sering menggunakan
kereta, Contohnya adalah balap kereta kuda yang populer di masa
Romawi kuno. Di kalangan masyarakat Nordik juga dikenal pacuan
kuda milik dewa Odin dengan raksasa Hrungnir dalam
Mitologi mereka di daerah Eropa. Pacuan kuda sering berkaitan dengan
judi, karena dari sanalah pendapatan utama bagi penyelenggara. Olah raga
ini sering disebut sebagai Olah raga raja-raja.
Bentuk-bentuk
olahraga pacuan kuda
Salah satu bentuk utama dari pacuan
kuda yang populer di banyak bagian dunia sekarang adalah Pacuan
KudaThoroughbred Race. Harness racing juga populer di daerah sebelah
timur Amerika Serikat dan lebih populer dibandingkan dengan pacuan
thoroughbred di Kanada dan beberapa bagian Eropa.
Pembiakan,
latihan dan pacuan kuda di banyak negara kini menjadi aktivitas ekonomi yang
penting sehingga, dalam banyak hal ia menjadi pendukung kegiatan perjudian.
Kuda-kuda yang luar biasa dapat memenangkan jutaan dolar dan menghasilkan
berjuta-juta dolar lagi dengan menjadi pejantan lewat pembiakan kuda.
Istilah
pada lomba pacuan kuda
1. Drawing: adalah sebuah rapat penentuan RACE untuk suatu
event pacuan. Diadakan dua atau tiga hari menjelang pacuan hari pertama.
Bertujuan untuk menentukan masing-masing kuda masuk pada klas dan race yang
mana. Sebelum acara drawing, masing-masing kuda akan diukur ketinggiannya oleh
Dewan Juri Pacuan (aturan PORDASI).
2. Race atau disebut juga RUN: adalah istilah untuk menyebut
pertandingan pacuan kuda. Dalam satu hari pacuan biasanya terdapat 10 s/d 13
race. Masing-masing kuda hanya boleh lari pada 1 race sesuai dengan kelas yang
dipilih dan aturan/ukuran kuda. Race ditentukan saat drawing.
3. Scratch: istilah yang dipakai bila kuda tidak jadi ikut
lomba baik dengan sukarela atau terpaksa karena tidak bisa masuk startgate
dalam batas waktu yang sudah ditentukan.
4. Startgate: adalah peralatan untuk melakukan START dalam
suatu lomba. Bentuknya adalah rangkaian besi untuk memasukkan kuda dan jockey
sebelum aba-aba “START” dilakukan. Start gate berbentuk sebuah rangkaian
beberapa kotak yang longgar sehingga kuda bisa berhenti dan menunggu untuk
lepas melesat kedepan. Sebuah pintu tertutup rapat didepan dan akan terbuka
secara bersamaan setelah bendera START dan tuas START ditekan oleh seorang
START MASTER. Sebuah startgate bersifat mobil dapat dipindahkan sesuai garis start
yang ditentukan dengan bantuan sebuah kendaraan penarik.
5. START Master: Start master adalah petugas dalam lomba pacuan
sebagai pelepas kuda.
6. Gate Master: Petugas yang melakukan pekerjaan dilingkungan
startgate, memasukkan kuda-kuda kedalam kotak-kotak start, menutup pintu start,
memindahkan startgate dsb.
7. Dewan Stewards atau disebut juga Dewan Juri: Adalah suatu
komisi yang bertanggung jawab atas jalannya lomba pacuan. Menentukan apakah
pacuan bisa diteruskan atau diberhentikan, menentukan apakah kuda boleh
dilarikan atau tidak, menentukan siapakah pemenang suatu lomba, menentukan
apakah jockey telah melakukan pelanggaran dan juga memberikan peringatan.
8. Photo Finish: Suatu peralatan photography yang dipasang digaris
finish untuk merekam kuda-kuda yang masuk garis finish. Penting sebagai penentu
siapakah kuda yang memasuki finish lebih awal bila ada dua atau lebih secara
bersama memasuki garis finish. Bila tidak mempergunakan photo finish, bila
terdapat kuda kuda yang secara bersamaan memasuki garis finish maka pemenangnya
adalah kuda yang berada di band paling luar.
9. Band: adalah garis pembatas track pacu terbuat dari kayu,
fiber, beton atau besi atau bahkan tali temali yang terangkai mengelilingi
track pacu. Band dalam artinya garis pembatas track pacu sebelah dalam
sedangkan band luar adalah garis pembatas sebelah luar track. Band dalam dibuat
setinggi 40-60 cm sedangkan band luar 80-100 cm.
10. Track:
adalah jalur melingkar berbentuk oval lebarnya antara 10 s/d 15 M sebagai jalur
pacu kuda. Landasan bervariasi ada tanah hitam, tanah rumput atau pasir. Sesuai
aturan PORDASI kuda lari mengelilingi track dengan arah searah jarum jam
(kekanan). Track dibatasi oleh dua garis pembatas yaitu sebelah dalam dan
sebelah luar. Kuda tidak boleh keluar dari track pacu selama lomba.
11. Stall
Paddock atau disebut paddock pameran: adalah suatu area dilapangan pacuan kuda
dimana kuda-kuda menunggu pacuan dimulai. Kuda-kuda akan berjalan
beriringan,sesuai dengan nomor punggung masing-masing, mengelilingi paddock
yang sekaligus memberikan kesempatan kepada para penggemar pacuan kuda untuk
mengamati “performance” kuda masing-masing. Paddock pameran berada didepan
tribune kehormatan dan sekaligus didepan garis finish.
12. Control
Tower: Adalah sebuah menara untuk Dewan Stewards sebagai tempat melakukan
kontrol monitoring atas jalannya lomba.
Peralatan Dasar Berkuda Yang Harus
Anda Ketahui
Bagi anda para pemula dalam olah
raga berkuda, peralatan dasar yang harus anda ketahui dan miliki sebagai
perlengkapan wajib. Peralatan tersebut harus anda kontrol baik kelengkapannya
maupun kualitasnya. Peralatan dasar itu terbagi dalam 2 hal:
1. Peralatan Bagi Si Penunggang
Peralatan dasar bagi penunggang kuda
terdiri atas peralatan keamanan dan pelindung diri antara lain: standard safety
helmet (helm), sepatu tunggang/boot, pelindung dada (bila perlu), kaca mata
(race). Serta Cemeti (pecut).
2. Peralatan Bagi Si Kuda:
Peralatan bagi si kuda terdiri atas
Peralatan Punggung atau disebut pelana/saddle beserta perlengkapannya dan
Peralatan Kepala atau disebut Head Bridle dan perlengkapannya.
Peralatan Punggung Kuda terdiri
atas:
a. Pelana Kuda atau disebut “Saddle=English”.
b. Alas Saddle atau dikenal dengan kata “Lebrak=Jawa”, atau
“Saddle Pad = English”.
c. Sanggurdi atau dikenal dengan kata “Songgowedi=Jawa” atau
“Stirrups = English”.
d. Tali Sanggurdi atau dikenal dengan kata “Tali Ulur = Jawa”
atau “Adjustable Stirrup Straps=English”.
e. Amben atau dikenal dengan kata Tali Perut atau “Girth =
English” terdiri atas Amben Luar dan Amben Dalam.
Sedangkan Peralatan Kepala terdiri
atas:
a. Sarungan Kepala atau “Head Bridle=English” dengan berbagai
variasi seperti dengan Nose-band dll.
b. Kendali besi atau dikenal dengan kata “Cakotan=Jawa” atau
“Bite=English”.
c. Tali Kekang atau dikenal dengan kata “Lis = Jawa” atau
“Reins=English”.
d. Martingal alat ini dipakai untuk membantu menggendalikan
kuda. Ada vertikal martingal dan horizontal martingal.
e. Tali Tuntunan atau disebut “Lead Rope=English”.
Tingkatan dan umur pada
pacuan kuda
Pacuan kuda memiliki tingkat sendiri
ditiap lombanya. Dan untuk berlaga ditingkat selanjutnya, kuda harus masuk
posisi 5 besar pada tingkat sebelumnya. Tingkatannya adalah sebagai berikut :
·
Maiden Race (balapan untuk kuda
pemula)
·
Class D (berada 1 tingkat diatas
Maiden Race)
·
Class C (berada 1 tingkat diatas
Class D)
·
Class B
·
Class A
·
Grade III
·
Grade II
·
Grade I (merupakan tingkatan
tertinggi dalam pacuan. Grade I Race pesertanya minimal telah masuk Grade III.
Dan Grade I dibagi menjadi 2 yakni untuk kuda lokal dan untuk internasional.)
Sedangkan umur untuk ikut
lomba Flat Race(untuk Jumping Race tinggal
ditambah 1 tahun) adalah :
·
2 tahun (mulai dapat mengikuti Maiden
Race dan memilikiGrade I Race khusus untuk kuda muda.)
·
3 tahun (bagi kuda yang sukses di
umur 2 tahun, dapat mengikuti kejuaraan 3 Grade I Race utama
untuk kuda 3 tahun)
·
4 tahun (masa transisi, disini kuda
sudah harus melawan yang lebih tua dari dirinya. Kebanyakan kuda2 4 tahun kalah
ditangan kuda2 5 tahun yang telah matang baik skill maupun usia)
·
5 tahun (masa emas bagi seekor kuda
pacu)
·
6 tahun (masa menurun, biasanya
kuda2 hebat mulai pensiun dan membuat keturunan saat kondisinya masih bagus)
·
Umumnya, kuda maksimal mengikuti
lomba hingga berusia 8 tahun.
3. Olahraga Selam
Diving adalah kegiatan menyelam dengan menggunakan peralatan selam lengkap seperti Fin, Mask, Tabung Osigen beserta regulator. Sebenarnya olahraga diving adalah olahraga yang aman asalkan dilakukan dengan teknik yang benar. Berikut ini adalah beberapa teknik diving atau menyelam yang benar yang sebaiknya kuasai:
Diving adalah kegiatan menyelam dengan menggunakan peralatan selam lengkap seperti Fin, Mask, Tabung Osigen beserta regulator. Sebenarnya olahraga diving adalah olahraga yang aman asalkan dilakukan dengan teknik yang benar. Berikut ini adalah beberapa teknik diving atau menyelam yang benar yang sebaiknya kuasai:
1. Teknik Menjernihkan Masker
|
Teknik diving yang pertama ini
adalah teknik dasar yang harus dikuasai oleh semua penyelam. Caranya dengan
menghirup udara lewat mulut, kemudian sesaat sebelum menghembuskan udara lewat
hidung bagian bawah dari masker dibuka sedikit agar udara yang terperangkap
dapat keluar
2. Teknik Regulator Recovery
Ketika saat sobat menyelam mouthpiece terlepas
maka jangan panik. Untuk mengatasinya bisa dengan cara menggerakan tangan dari
depan sampai kepaha (seperti membuat lingkaran) hinnga menyapu selang
regulator.
3. Teknik Regulator Clearing
Teknik diving yang ketiga ini
dilakukan ketika selang mengalami kebocoran hingga menyebabkan air masuk
kedalam. Untuk mengatasinya cukup mudah yaitu dengan menekan tombol purge.
Tombol purge tersebut berfungsi untuk mengeluarkan air secara
otomatis dari regulator.
4. Teknik Naik Ke Permukaan
Jika sobat menyelam yang cukup dalam
maka perlu menggunakan teknik yang benar ketika akan naik ke permukaan. Hal ini
dilakukan untuk menghindari dari resiko cidera. Ketika akan naik kepermukaan
harus mempertimbangkan kecepatan, yaitu sekitar 9 m /mnt. Selain itu juga harus
menjaga nafas dalam keadaan normal (jangan ditahan). Ketika sudah mencapai 5
meter sebelum permukaan, berhentilah terlebih dahulu pastikan keadaan di atas
permukaan aman.
5. Teknik Berenang
Teknik diving yang terakhir yaitu
teknik berenang. Sama seperti halnya dalamsnorkeling, ketika menyelam
juga mengandalkan tenaga dari ayunan kaki. Ketika mengayunkan kaki perhatikan
ritmenya jangan terlalu kencang karena hanya akan menguras tenaga. Penggunaan
tangan hanya untuk melakukan manuver saja.
4. Olahraga
Panjat Tebing
Alat
- Alat Pemanjatan
Alat-alat yang diguanakan dalam pemanjatan artificial
Alat-alat yang diguanakan dalam pemanjatan artificial
1.
Tali Carmentel
Secara umun tali Carmentel di bagi menjadi dua macam yaitu :
- Static adalah tali yang mempunyai daya lentur 6% – 9%, digunakan untuk tali fixed rope yang digunakan untuk ascending atau descending. Standart yang digunakan adalah 10,5 mm.
Secara umun tali Carmentel di bagi menjadi dua macam yaitu :
- Static adalah tali yang mempunyai daya lentur 6% – 9%, digunakan untuk tali fixed rope yang digunakan untuk ascending atau descending. Standart yang digunakan adalah 10,5 mm.
-
Dynamic adalah tali yang mempunyai daya lentur hingga 25%, digunakan sebagai
tali utama yang menghubungkan pemanjat dengan pengaman pada titik tertinggi.
2.
Harnest adalah alat pengikat di tubuh sebagai
pengaman yg nantinya dihubungkan dengan tali.
3. Carabiner adalah cincin kait yg terbuat dari
alumunium alloy sebagai pengait dan dikaitkan dgn alat lainnya.
-
Karabiner Skrup/carabiner srew gate
- Karabiner Snap/carabiner non screw gate
- Karabiner Snap/carabiner non screw gate
4.
Helmet adalah pelindung kepala yg melindungi
kepala dari benturan dari benda-benda yang terjatuh dari atas.
5.
Webbing, peralatan panjat yg berbentuk pipih
tidak terlalu kaku dan lentur, biasa digunakan sebagai harnest
6. Prusik, merupakan jenis tali carmentel yg berdiameter 5-6 mm, biasanya digunkan sbg pengganti sling runner dan juga dpt digunakan untuk meniti tali keatas dengan menggunakan simpul prusik, seperti pada SRT.
7. Sepatu Panjat, sbg pelindung kaki dan mempunyai daya friksi yg tinggi sehingga dpt melekat di tebing. Jenisnya sendiri yang sering digunakan adalah soft (lentur/fleksibel) dan hard (keras)
8. Chock bag/Calk bag, sebagai tempat MgCo3 (Magnesium Carbonat) yg berfungsi agar tangan tdk licin karena berkeringat sehingga akan membantu dalam pemanjatan.
9.
Descender, peralatan yg digunakan untuk meniti
tali kebawah serta mengamankan leader disaat membuat jalur, biasanya yg sering
digunakan adalah figure of eight dan auto stop.
10.
Ascender, peralatan yg digunakan untuk meniti
tali ke atas dan secara otomatis akan mengunci bila dibebani. Jenis yang
digunakan biasanya jumar dan croll
11.
Grigri, alat ini digunakan untuk membelay, alat
ini mempunyai tingkat keamanan yg paling tinggi karena dapat membelay dengan
sendirinya.
12.
Hammer, berfungsi untuk menanamkan pengaman dan
melepaskan kembali, biasanya yg diapakai jenisnya ringan dan mempunyai kekuatan
tinggi dan ujungnya berfungsi mengencangkan mur pada saat memasang hanger.
13.
Pulley, mirip katrol, kecil dan ringan tetapi
memiliki kemampuan dalam beban yg berat. Digunakan untuk perlengkapan evakuasi.
14.
Handdrill,
merupakan media untuk mengebor tebing secara manual, yg berfungsi untuk menempatkan
pengaman berupa bolt serta hanger.
Simpul Yang Digunakan Dalam Pemanjatan
1. Simpul Delapan Ganda
Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan tubuh atau harnest. Toleransi 55% – 59%.
2.
Simpul Delapan Tunggal
Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan tubuh atau harnest apabila carabiner tidak ada Toleransi 55% – 59%.
Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan tubuh atau harnest apabila carabiner tidak ada Toleransi 55% – 59%.
3.
Simpul Pangkal
Untuk
mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope)
pada anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang
sebesar 45%.
4. Simpul Jangkar
Untuk mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope) pada anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 45%.
5. Simpul Kambing / bowline knot
Untuk pengaman utama dalam penambatan atau pengaman utama yang dihubungkan dengan penambat atau harnest. Toleransi 52%.
6. Simpul Kupu – kupu / Butterfly knot
Untuk membuat ditengah atau diantara lintasan horizon. Bisa juga digunakan untuk menghindari tali yang sudah friksi. Toleransi terhadap kekuatan tali 50%.
7. Simpul Nelayan / Fisherman Knot
Untuk menyambung 2 tali yang sama besarnya dan bersifat licin. Toleransi 41% – 50%
8. Simpul Frusik
Simpul yang digunakan dalam teknik Frusiking SRT
9.
Simpul Pita
Untuk Menyambung Tali yang sejenis, yang sifatnya licin atau berbentuk pipih (umumnya digunakan untuk menyambung Webbing)
Untuk Menyambung Tali yang sejenis, yang sifatnya licin atau berbentuk pipih (umumnya digunakan untuk menyambung Webbing)
10. Simpul Italy
Untuk repeling jika tidak ada figure eight atau grigri. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang 45%.
o
Overhand Knot
Untuk mengakhiri pembuatan simpul sebelumnya. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 40%.
o Clove hitch knot
Untu mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope) pada anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 45%.
o Figure of eight knot
Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan tubuh atau harnest. Toleransi 55% – 59%.
o Eight on bight knot
Untuk pengaman utama dalam penambat pada dua anchor. Toleransi 68%.
o Simpul two in one
Simpul ini biasanya digunakan sebagai penambat pada anchor natural saat cleaning, yaitu ketika pemanjat selesai dan turun dari tebing tanpa meninggalkan alat.
Untuk mengakhiri pembuatan simpul sebelumnya. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 40%.
o Clove hitch knot
Untu mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope) pada anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 45%.
o Figure of eight knot
Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan tubuh atau harnest. Toleransi 55% – 59%.
o Eight on bight knot
Untuk pengaman utama dalam penambat pada dua anchor. Toleransi 68%.
o Simpul two in one
Simpul ini biasanya digunakan sebagai penambat pada anchor natural saat cleaning, yaitu ketika pemanjat selesai dan turun dari tebing tanpa meninggalkan alat.
Kode – Kode yang Digunakan Dalam Pemanjatan
Kode – kode pemanjatan adalah sebagai berikut :
1. Climb : Pemanjat Menginstrusi kepada Pembilay bahwa pemanjat siap memanjat
2. Climbing : Pembilay Memberitahukan kepada pemanjat bhw dia siap mengamankan
pemanjat
3. On Belay : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay bahwa pemanjat memulai
memanjat
4. Belay On : Pembilay Memberitahukan kepada pemanjat bhw dia telah mengamankan pemanjat
5. Full : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay agar tali dikencangkan
6. Slack : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay agar tali dikendorkan
7. Rock : Pemanjat Memberitahukan kepada orang yang berada dibawah bahwa ada batuan tebing yang jatuh
8. Top : Pemanjat Memberitahukan bahwa dia telah sampai pada puncak
9. Belay of : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay bahwa dia tidak membutuhkan lagi pengamanan
10. Of Belay : Pembilay Menginstrusi kepada pemanjat bahwa dia tidak mengamankan lagi
Jenis Pegangan
1.
Open Grip : Pegangan pada pemanjatan yang dilakukan dengan posisi tangan
terbuka,biasanya digunakan pada tebing – tebing datar
2.
Cling Grip : Pegangan pada pemanjatan yang dilakukan degan menggunakan seluruh
jari tangan dan dan agak mirip mencubit biasanya digunakan pada tebing yang
permukaannya banyak tonjolan,
3. Pinch Grip : Pegangan pada pemanjatan yang mirip dengan mencubit,dan mengandalkan kekuatan jempol dan telunjuk yang biasa digunakan untuk memegang poin – poin kecil pada tebing
4. Poket Grip : Pegangan pada pemanjatan dilakukan dengan cara memasukkan jari – jari kedalam celahan/ lobang tebing, biasanya digunakan pada tebing limenstone ( kapur ) yang banyak memiliki poin lobang.
5. Vertikal Grip : Pegangan pada pemanjatan yang bertumpu pada poin tebing dengan menggunakan kekuatan lengan untuk bertumpu dan menaikkan badan.
3. Pinch Grip : Pegangan pada pemanjatan yang mirip dengan mencubit,dan mengandalkan kekuatan jempol dan telunjuk yang biasa digunakan untuk memegang poin – poin kecil pada tebing
4. Poket Grip : Pegangan pada pemanjatan dilakukan dengan cara memasukkan jari – jari kedalam celahan/ lobang tebing, biasanya digunakan pada tebing limenstone ( kapur ) yang banyak memiliki poin lobang.
5. Vertikal Grip : Pegangan pada pemanjatan yang bertumpu pada poin tebing dengan menggunakan kekuatan lengan untuk bertumpu dan menaikkan badan.
Jenis Pijakan
1. Frinction Steep :
Pijakan dalam pemanjatan yang bertumpu pada kaki bagian depan dan mengandalkan
gesekan karet sepatu.
2. Eadging : Pijakan dalam pemanjatan yang menggunakan sisi luar kaki.
3. Mearing : Pijakan dalam pemanjatan yang menggunakan seluruh alas kaki (Pijakan Biasa)
4. Hel Hooking : Pijakan dalam pemanjatan yang dilakukan untuk mengantisipasi poin2 yang menggantung dengan menggunakan kekuatan kaki untuk mengangkat badan keatas untuk menggapai poin selanjutnya.
2. Eadging : Pijakan dalam pemanjatan yang menggunakan sisi luar kaki.
3. Mearing : Pijakan dalam pemanjatan yang menggunakan seluruh alas kaki (Pijakan Biasa)
4. Hel Hooking : Pijakan dalam pemanjatan yang dilakukan untuk mengantisipasi poin2 yang menggantung dengan menggunakan kekuatan kaki untuk mengangkat badan keatas untuk menggapai poin selanjutnya.
Teknik Pemanjatan
1.
Artificial Climbing
Adalah
olahraga yang dilakukan pada tebing-tebing dengan tingkat kesulitan yang tinggi
dengan bermodalkan alat yang diselipkan pada celah-celah batu atau memanfaatkan
pengaman alam (natural anchor).
Artificial climbing ini dimana alat benar-benar digunakan sebagai penambah ketinggian disampin sebagai pengaman pemanjatan.
2. Soloing
Adalah Pemanjatan yang dilakukan dengan mengandalkan kekuatan tubuh untuk langsung mencapai top tanpa menggunakan pengaman, biasanya dilakukan oleh pemanjat profesional karna sangat berbahaya.
3. Boldering
Pemanjatan yang dilakukan untuk melatih kekuatan dan kelenturan badan yang biasanya dilakukan secara enyamping pada tebing – tebing pendek atau tebing buatan.
4. Free Climbing
Pada prinsipnya hampir sama dengan pemanjatan artificial hanya dalam free climbing alat digunakan hanya sebagai pengaman saja sedangkan untuk menambah ketinggian menggunakan pegangan tangan dan friksi (gaya gesek) kaki sebagai pijakan.
5. Runer to runer
Pemanjatan yang dilakukan tahap demi tahap,dilakukan pada pemanjatan yang sudah memiliki jalur yang berupa ancor/penambat, biasa juga diperlombakan pada wall buatan.
Artificial climbing ini dimana alat benar-benar digunakan sebagai penambah ketinggian disampin sebagai pengaman pemanjatan.
2. Soloing
Adalah Pemanjatan yang dilakukan dengan mengandalkan kekuatan tubuh untuk langsung mencapai top tanpa menggunakan pengaman, biasanya dilakukan oleh pemanjat profesional karna sangat berbahaya.
3. Boldering
Pemanjatan yang dilakukan untuk melatih kekuatan dan kelenturan badan yang biasanya dilakukan secara enyamping pada tebing – tebing pendek atau tebing buatan.
4. Free Climbing
Pada prinsipnya hampir sama dengan pemanjatan artificial hanya dalam free climbing alat digunakan hanya sebagai pengaman saja sedangkan untuk menambah ketinggian menggunakan pegangan tangan dan friksi (gaya gesek) kaki sebagai pijakan.
5. Runer to runer
Pemanjatan yang dilakukan tahap demi tahap,dilakukan pada pemanjatan yang sudah memiliki jalur yang berupa ancor/penambat, biasa juga diperlombakan pada wall buatan.
5. Olahraga Panahan
Latar Belakang
Olahraga panahan sudah lama dikenal di Indonesia,
olahraga ini membutuhkan sentuhan jiwa yang halus, kesabaran, keuletan,
konsentrasi dan ketahanan mental yang tinggi serta memiliki tingkat kecemasan
yang tinggi. Sehingga unsur-unsur seperti postur tubuh, teknik dasar, mekanisme
gerak, mentalitas dan kondisi fisik sebagai
sebuah kesatuan yang harus dimiliki oleh seorang pemanah. Seperti sebuah seni,
olahraga panahan sangat kompleks tidak seperti yang kita lihat yaitu menarik,
dan melepaskan panah.
Dilihat dari karakteristiknya
olahraga panahan adalah melepaskan panah melalui lintasan tertentu menuju
sasaran pada jarak tertentu. Apabila diperbandingkan dengan olahraga yang
memerlukan gerak statis atau suatu keterampilan tertutup lainnya seperti cabang
olahraga menembak, perbedaan panahan dengan menembak terletak pada jenis
kekuatan dorongannya.
Pada menembak kekuatan dorongan
diperoleh dari ledakan alat itu sendiri, sedangkan pada panahan kekuatan
dorongan sangat tergantung pada energi atau tenaga yang timbul karena tarikan
atau rentangan pemanah terhadap busur, dimana energi yang diperoleh dari
rentangan diubah menjadi daya dorong pada waktu panah dilepaskan. Oleh karena
itu penggunaan alat tersebut memerlukan kekuatan dan daya tahan otot-otot
tertentu terutama untuk menarik busur.
Dalam olahraga panahan atau olahraga
lainnya, atlet sangat dituntut untuk menampilkan penampilan terbaiknya.
Nampaknya ini bukanlah sesuatu yang mudah bagi atlet yang tidak terlatih,
bahkan atlet terlatih pun seringkali mengalami kesulitan.
Dalam cabang olahraga panahan selain membutuhkan kondisi
fisik yang prima seorang pemanah harus pula menguasai teknik dasar memanah yang
baik dan benar agar dapat mencapai prestasi optimal. Seorang pemanah dikatakan
memiliki kondisi fisik yang prima, jika ia memiliki daya tahan serta kekuatan
otot yang dipergunakan langsung dalam memanah. Berikut ini disajikan sembilan
langkah teknik dasar untuk pemanah pemula, yaitu:
1. Sikap Berdiri (stand)
Sikap berdiri (stand), menurut
Damiri, “Sikap/posisi kaki pada lantai atau tanah. Sikap berdiri yang baik
ditandai oleh: (1) titik berat badan ditumpu oleh kedua kaki/tungkai secara
seimbang, (2) tubuh tegak, tidak condong ke depan atau ke belakang, ke samping
kanan ataupun ke samping kiri.” Terdapat empat macam sikap kaki dalam panahan,
yaitu open stand, square stand, close stand, dan oblique stand, yang kebanyakan
dipakai oleh pemanah pemula adalah sikap square stand atau sikap sejajar.
2. Memasang Ekor Panah (nocking)
Memasang ekor anak panah (nocking),
menurut Damiri, “Gerakan menempatkan atau memasukkan ekor panah ke tempat anak
panah (nocking point) pada tali dan menempatkan gandar (shaft) pada sandaran
anak panah (arrow rest). Kemudian diikuti dengan menempatkan jari-jari penarik
pada tali dan siap menarik tali.” Memasang ekor panah dalam olahraga panahan
bisa menjadi fatal apabila salah penempatan baik terlalu atas ataupun terlalu
bawah, maka perlu untuk memperhatikan kembali apakah anak panah yang dipasang
sudah lurus tersandar di busur ataukah belum.
3. Mengangkat Lengan Busur (extend)
Mengangkat lengan busur (extend),
menurut Damiri, “Gerakan mengangkat lengan penahan busur (bow arm) setinggi
bahu dan tangan penarik tali siap untuk menarik tali.” Hal-hal yang harus
diperhatikan, yaitu lengan penahan busur rileks, tali ditarik oleh tiga jari
yaitu jari telunjuk, jari tengah dan jari manis.Tali ditempatkan atau lebih
tepatnya diletakkan pada ruas-ruas jari pertama, dan tekanan busur terhadap
telapak tangan penahan busur ditengah-tengah titik V, yang dibentuk oleh ibu
jari dan jari telunjuk (lengan penahan busur),
4. Menarik Tali Busur (drawing)
Menarik tali busur (drawing),
menurut Damiri, “Gerakan menarik tali sampai menyentuh dagu, bibir dan atau
hidung. Kemudian dilanjutkan dengan menjangkarkan tangan penarik tali di dagu.”
Ada tiga fase gerakan menarik, yaitu pre-draw, primary draw dan secondary draw.
Pre-draw adalah gerakan tarikan awal. Pada saat ini sendi bahu, sendi siku dan sendi
pergelangan tangan telah dikunci. Primary-draw atau tarikan utama adalah
gerakan tarikan dari posisi pre-draw sampai tali menyentuh atau menempel dan
sedikit menekan atau mengetat pada bagian dagu, bibir dan hidung dan berakhir
pada posisi penjangkaran. Secondary-draw atau tarikan kedua adalah gerakan
menahan tarikan pada posisi penjangkaran sampai melepas tali (release).
5. Menjangkarkan Lengan Penarik
(anchoring)
Menjangkarkan lengan penarik
(anchoring), menurut Damiri, “Gerakan menjangkarkan tangan penarik pada bagian
dagu.” Hal yang harus diperhatikan, yaitu tempat penjangkaran tangan penarik
tali harus tetap sama dan kokoh menempel di bawah dagu, dan harus memungkinkan
terlihatnya bayangan tali pada busur (string alignment). Ada dua jenis penjangkaran,
yaitu penjangkaran di tengah dan penjangkaran di samping. Pada penjangkaran di
tengah, tali menyentuh pada bagian tengah dagu, bibir dan hidung serta tangan
penarik menempel di bawah dagu. Pada penjangkaran di samping, tali menyentuh
pada bagian samping dagu, bibir dan hidung, serta tangan penarik menempel di
bawah dagu.
6. Menahan Sikap Panahan (tighten)
Menahan sikap panahan (tighten),
menurut Damiri, adalah: Suatu keadaan menahan sikap panahan beberapa saat,
setelah penjangkaran dan sebelum anak panah dilepas. Pada saat ini otot-otot
lengan penahan busur dan lengan penarik tali harus berkontraksi agar sikap
panahan tidak berubah. Bersamaan dengan itu pemanah melakukan pembidikan. Jadi
pada saat membidik, sikap pemanah harus tetap dipertahankan.
7. Membidik (Aiming)
Membidik (aiming), menurut Damiri:
“Gerakan mengarahkan atau menempelkan titik alat pembidik (visir) pada tengah
sasaran/titik sasaran.” Pada posisi membidik, posisi badan dari pemanah
diharapkan tidak berubah, kemudian pemanah tidak hanya fokus kepada sasaran
tetapi diutamakan pada teknik, dengan kondisi badan yang relaks fokus akan
lebih baik.
8. Melepas Tali/Panah (release)
Melepas tali/panah (release),
menurut Damiri: “Gerakan melepas tali busur, dengan cara merilekskan jari-jari
penarik tali.” Ada dua cara melepaskan anak panah, yaitu dead release dan
active release. Pada dead release setelah tali lepas, tangan penarik tali tetap
menempel pada dagu seperti sebelum tali lepas. Pada active release, setelah
tali lepas tangan penarik tali bergerak ke belakang menelusuri dagu dan leher
pemanah.
Pelepasan anak panah yang baik
diperlukan untuk memberikan kekuatan penuh dari tali terhadap panah dalam
setiap melepaskan panah yang diinginkan dan untuk mencegah getaran tali yang
tidak diperlukan, yang akan menyebabkan panah berputar. Kesalahan sedikit
apapun pada saat melepaskan anak panah, mengakibatkan dampak yang sangat besar
terhadap sasaran.
9. Menahan Sikap Panahan (after
hold)
Menahan sikap panahan (after hold),
menurut Damiri, “Suatu tindakan untuk mempertahankan sikap panahan sesaat
(beberapa detik) setelah anak panah meninggalkan busur. Tindakan ini
dimaksudkan untuk memudahkan pengontrolan gerak panahan yang dilakukan.”
Sumber:
http://orkesnews.blogspot.com/2012/06/cabang-olah-raga-panah.html